Penelitian ini mengkaji tentang makna filosofis dari Mahkota Siger sebagai simbol identitas masyarakat Lampung, serta dinamika sosial dari simbol ini ditengah perubahan nilai masyarakat modern. Karena selama ini kajian yang ada lebih fokus pada aspek estetika dan fungsi seremonialnya. Dengan menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologis, penelitian ini dilakukan melalui penelitian lapangan yang melibatkan wawancara mendalam dengan tiga tokoh kunci adat dan pengamatan langsung di Lampung dan sekitarnya. Temuan tersebut mengungkapkan bahwa Mahkota Siger bukan hanya benda hias dalam upacara adat, tetapi simbol budaya yang mewakili nilai-nilai moral, struktur sosial, dan kedalaman spiritual. Ini mewujudkan identitas kolektif masyarakat Pepadun melalui makna simbolis seperti "pi'il pesenggiri", status, kehormatan, dan integrasi filosofis nilai-nilai Islam terutama relevansi simbolis dari sembilan cabangnya. Namun, dalam konteks kontemporer, pergeseran makna yang signifikan telah terjadi, terutama di kalangan generasi muda yang cenderung menganggap Siger sebagai lambang budaya dekoratif tanpa memahami esensi sucinya. Pergeseran semantik ini menimbulkan ancaman bagi integritas budaya dan spiritual simbol. Penelitian ini merekomendasikan revitalisasi strategis melalui pendidikan budaya, dialog antargenerasi, dan keterlibatan kelembagaan yang lebih kuat dari para pemimpin adat untuk melestarikan dimensi materi dan immaterial Mahkota Siger. Memperkuat nilai-nilainya baik di ruang budaya formal maupun informal sangat penting untuk memastikan keberlanjutannya dalam menghadapi tantangan sosial-budaya modern.
Copyrights © 2025