Menghafal al-Qur’an bukanlah perjalanan singkat, melainkan proses panjang yang menuntut komitmen, ketangguhan dan kesabaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pengalaman hafiz (santri yang menghafal al-Qur’an) yang tidak mengikuti pendidikan formal dan tidak menggunakan fasilitas modern seperti telepon genggam atau kendaraan pribadi, namun tetap mampu menjaga konsistensi dalam menghafal al-Qur’an. Fokus penelitian ini adalah pada grit, yaitu semangat dan ketekunan yang terus terjaga dalam mengejar tujuan hidup yang bermakna. Pendekatan fenomenologi kualitatif digunakan untuk menggali makna pengalaman para hafiz melalui wawancara mendalam dan observasi di lingkungan pesantren. Partisipan sejumlah tujuh hafiz dipilih menggunakan teknik purposive dan data dikumpulkan melalui wawancara mendalam serta dianalisis menggunakan analisis tematik fenomenologis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa grit hafiz tumbuh dari perpaduan antara motivasi spiritual, kemampuan regulasi diri, serta dukungan moral dan sosial di lingkungan pesantren. Keterbatasan justru dimaknai sebagai latihan kesabaran dan pembentukan karakter. Temuan ini memperluas pemahaman tentang grit dalam konteks Pendidikan dimana ketekunan tidak hanya lahir dari kemauan pribadi (willpower), tetapi juga dari kekuatan iman dan makna hidup (faithpower). Temuan ini memberikan wawasan penting tentang pengembangan ketangguhan mental dan karakter dalam pendidikan, khususnya di lingkungan pesantren.
Copyrights © 2025