Penelitian ini bertujuan untuk melakukan mikrozonasi seismik di wilayah Sabah Balau dan Tanjung Bintang, Lampung Selatan, dengan menganalisis parameter frekuensi natural ( ), amplifikasi ( ), indeks kerentanan seismik ( ), dan kecepatan gelombang geser hingga kedalaman 30 meter ( ) menggunakan metode Horizontal to Vertical Spectral Ratio (HVSR) pada 36 titik pengukuran. Tujuan ini penting karena wilayah tersebut memiliki karakteristik geologi Kuarter yang didominasi oleh endapan piroklastik muda serta kedekatannya dengan terduga sesar aktif pada Lembar Geologi Tanjung Karang, sehingga berpotensi mengalami amplifikasi guncangan gempa yang signifikan. Hasil menunjukkan dominasi ketebalan sedimen sangat tebal ( : 1,211–2,474 Hz), amplifikasi sedang hingga tinggi (3,105–8,844), dan indeks kerentanan tinggi (6,274–24,805), dengan nilai berkisar antara 160,270–591,905 m/s yang didominasi oleh karakteristik tanah sedang (175–350 m/s). Zonasi kerentanan menunjukkan 18 titik berada dalam zona tinggi, 7 titik dalam zona menengah, dan 7 titik lainnya dalam zona rendah. Proses inversi menggunakan algoritma genetika menghasilkan model bawah permukaan yang konsisten dengan data observasi, sehingga hasil mikrozonasi ini krusial untuk mendukung perencanaan pembangunan dan strategi mitigasi bencana gempa bumi di wilayah tersebut.
Copyrights © 2025