Arab adalah bangsa yang dikenal kuat karena persatuannya. Akan tetapi, semakin modern negara-negara Arab seakan-akan berdiri masing-masing. Persatuan yang dahulu menjadi kekuatan bangsa Arab sekarang menjadi tantangan yang harus ditumbuhkan kembali. Tantangan-tantangan tersebut disajikan oleh ‘Abdullah al-Baraddūni oleh penyair fenomenal Yaman, dalam puisinya Abū Tammām wa ‘Urūbatu Al-Yauma, sebuah puisi dalam Antologi Li ‘Ainai Ummi Bilqīs yang diterbitkan pada 1971. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tantangan terwujudnya persatuan Arab dalam puisi Abū Tammām wa ‘Urūbatu Al-Yauma. Untuk itu, penelitian ini menggunakan teori semiotik, ilmu tentang sistem tanda. Adapun metode yang digunakan untuk menganalisis puisi ini adalah empat metode yang dikemukakan oleh Riffaterre, yaitu ketidaklangsungan ekspresi, pembacaan semiotik yang terdiri dari pembacaan heuristik dan pembacaan hermeneutik, matriks, varian, dan model, dan hipogram. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa puisi Abu Tammam wa ‘Urubatu al-Yauma ini menggambarkan empat tantangan yang harus dihadapi bangsa Arab untuk mewujudkan persatuan mereka kembali, yaitu menurunnya rasa nasionalisme, kesewenang-wenangan para pemimpin, gempuran pihak Barat, dan perubahan sosial.
Copyrights © 2025