Artikel ini mengakaji polemik mengenai nasab (garis keturunan) habib yang belakangan meluas dan memicu polarisasi di tengah masyarakat Muslim. Penelitian ini bertujuan mencari jalan tengah agar perdebatan tentang keturunan tidak berkembang menjadi permusuhan, serta merumuskan kembali posisi nasab dalam kehidupan keberagamaan dengan merujuk pada prinsip-prinsip Al-Qur’an. Metode yang digunakan adalah analisis tematik ayat-ayat Al-Qur’an mengenai akhlak, ukhuwah, dan konsep kemuliaan manusia, khususnya penegasan bahwa ketakwaan merupakan satu-satunya ukuran mulia di sisi Allah. Pendekatan ini memungkinkan penilaian kritis terhadap praktik kebanggaan genealogis yang sering menimbulkan konflik sosial. Kebaruan kajian terletak pada penawaran kerangka rekonsiliatif yang menggeser fokus dari klaim status keturunan menuju pembentukan ketakwaan sebagai kesadaran moral transendental. Dengan demikian, kajian ini menghadirkan perspektif Qur’ani yang lebih inklusif dan berorientasi pada persatuan umat.
Copyrights © 2023