Semenjak awal tahun 2022 tepatnya pada bulan Maret, pemerintah Republik Indonesia mulai melonggarkan aturan Covid-19. Dampak positif dari hal tersebut adalah kondisi wisata di Lombok mulai menggeliat lagi. Banyak wisatawan yang mulai berkunjung ke wilayah lombok, NTB. Sehingga perekonomian juga berangsur-angsur membaik. Seiring dengan bangkitnya sektor pariwisata ini, usaha kuliner juga mulai tumbuh lagi. Beberapa kuliner yang terkenal di Lombok adalah Sate Rembiga, sate pusut, sate ikan tanjung dan sate bulayak. Untuk membuat berbagai macam jenis sate ini tentunya sangat membutuhkan tusuk sate. Dusun Seraya desa Bengkaung kecamatan Batu Layar Lombok Barat merupakan salah satu daerah penghasil tusuk sate. Produksi tusuk sate di daerah ini masih dikerjakan dengan alat tradisional. Universitas Mataram sebagai salah satu perguruan tinggi negeri di kota Mataram yang memiliki sumber daya tenaga ahli dan gudangnya ilmuwan sudah seharusnya menunjukkan peran dan partisipasinya untuk peduli terhadap usaha kecil yang ada disekitar kampus. Jarak kelompok usaha tusuk sate ini tidak terlalu jauh dari Universitas Mataram, sekitar 10 km. Berdasarkan permasalahan tersebut maka diperlukan untuk memberikan penyuluhan dan pengenalan alat bantu agar produksi tusuk sate yang dihasilkan menjadi meningkat. Alat yang diaplikasikan ini adalah alat pembelah bambu, yang mampu meningkatkan produksi tusuk sate. Sebelumnya pekerja dalam membelah satu potong bambu, membutuhkan beberapa kali proses pembelahan. Setelah menggunakan alat pembelah bambu ini dapat dikerjakan lebih cepat. Satu kali proses pembelahan sepotong bambu menggunakan alat pembelah bambu ini menghasilkan 10 bilah bambu, yang artinya jauh lebih banyak dibandingkan dengan yang dilakukan selama ini oleh pekerja. Hasil Evaluasi pada saat penyuluhan dapat dikatakan berhasil dengan terlihat semangatnya peserta penyuluhan dalam mempraktekkan penggunaan alat ini. Kata kunci: pembelah bambu, tusuk sate
Copyrights © 2025