Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis variasi tuturan mahasiswa dalam konteks formal dan nonformal melalui perspektif sosiopragmatik. Kajian difokuskan pada bagaimana faktor sosial, seperti status sosial, jarak hubungan, dan tujuan komunikasi, mempengaruhi bentuk serta strategi kesantunan dalam interaksi akademik dan nonakademik. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik observasi dan analisis wacana terhadap tuturan lisan yang dikumpulkan dari dua konteks: (1) formal, mencakup interaksi antara dosen dan mahasiswa di ruang kuliah serta rapat jurusan, dan (2) nonformal, mencakup percakapan antar mahasiswa di kantin dan dalam grup WhatsApp. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam konteks formal, tuturan cenderung menggunakan strategi tidak langsung dengan bahasa yang lebih terstruktur dan berhati-hati untuk menjaga hierarki sosial dan kesantunan akademik. Sebaliknya, dalam konteks nonformal, tuturan bersifat lebih langsung, ekspresif, dan egaliter, meskipun tetap mempertahankan kesantunan melalui penggunaan partikel, sapaan akrab, dan intonasi ringan. Perbedaan tersebut mencerminkan negosiasi antara efisiensi komunikasi dan pemeliharaan hubungan sosial sebagaimana dijelaskan dalam teori sosiopragmatik Leech (2014) serta teori kesantunan Brown dan Levinson (1987). Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap pemahaman tentang penggunaan bahasa yang santun dan kontekstual dalam ranah pendidikan serta menjadi acuan dalam pengajaran pragmatik dan komunikasi akademik di perguruan tinggi.
Copyrights © 2025