Penelitian ini dimotivasi oleh kecenderungan penelitian Pendidikan Agama Islam (PAI) yang masih didominasi oleh deskriptif-normatif, sehingga ruang untuk kritik metodologis dan pengembangan teoretis terbatas. Dalam konteks ini, teori falsifikasi Karl R. Popper menawarkan paradigma epistemologis yang lebih kritis dan terbuka untuk evaluasi ilmiah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis relevansi prinsip-prinsip falsifikasi Popper dalam memperkuat metodologi penelitian PAI kontemporer. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan desain riset kepustakaan, di mana pengalaman subjektif peneliti dalam berinteraksi dengan karya dan literatur metodologis Popper diinterpretasikan secara mendalam untuk mengungkap makna epistemologis yang relevan. Temuan penelitian menunjukkan bahwa falsifikasi Popper dapat mengatasi bias subjektif dan kecenderungan afirmatif dalam penelitian PAI, serta sejalan dengan mekanisme verifikasi dalam penyelidikan kualitatif seperti triangulasi dan pengecekan anggota. Hasil ini menyiratkan fondasi epistemologis yang lebih kuat bagi PAI, yang memungkinkannya menjadi lebih kritis, reflektif, dan adaptif terhadap perubahan sosial. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pemalsuan Popper merupakan dasar metodologis yang layak untuk memperbarui penelitian PAI, dan merekomendasikan penelitian lebih lanjut untuk memeriksa penerapan praktisnya dalam konteks pendidikan Islam empiris.
Copyrights © 2025