Permasalahan keterjangkauan dan kualitas hunian bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) di Indonesia ditangani melalui dua jalur utama, yaitu rumah khusus sebagai representasi standardisasi negara dan rumah subsidi sebagai wujud komersialisasi oleh pengembang. Namun, kesenjangan antara standar normatif dan realisasi pasar masih menjadi isu mendasar. Penelitian ini bertujuan membandingkan tipologi rumah khusus dan rumah subsidi dalam kerangka standardisasi versus komersialisasi. Metode penelitian menggunakan analisis dokumen resmi untuk rumah khusus serta observasi lapangan terhadap empat sampel rumah subsidi di Bandung Raya. Analisis tipologi dilakukan pada aspek fungsional (utilitas), geometrik (firmitas), dan langgam (venustas). Hasil menunjukkan bahwa rumah khusus menekankan modularitas, proporsi ruang, adaptasi kontekstual, serta inklusivitas bagi kelompok rentan, sedangkan rumah subsidi cenderung seragam, berorientasi pada efisiensi biaya, dan minim kontekstualitas budaya. Kesenjangan paling nyata terlihat pada aspek organisasi ruang dan ekspresi fasad. Penelitian ini menegaskan perlunya integrasi prinsip standardisasi ke dalam mekanisme komersialisasi agar rumah subsidi tidak hanya memenuhi standar administratif, tetapi juga mampu mendukung kualitas hidup secara berkelanjutan.
Copyrights © 2025