Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki warisan sosial–budaya maritim yang kaya, yang mengandung nilai-nilai kolektivitas, disiplin, tanggung jawab ekologis, serta ketangguhan. Artikel ini merupakan kajian literatur sistematis (2014–2025) yang menganalisis potensi sosial–budaya maritim sebagai sumber pembentukan pendidikan karakter pelajar Indonesia melalui kerangka Pierre Bourdieu (habitus, modal budaya, field). Analisis tematik terhadap 48 publikasi menemukan bahwa nilai-nilai kultural maritim sangat relevan dengan tujuan pendidikan karakter, tetapi proses konversi nilai tersebut menjadi modal budaya yang diakui dalam ranah pendidikan terhambat oleh: (1) keterbatasan bahan ajar terstandar; (2) kapasitas guru dalam pedagogi kontekstual; dan (3) mekanisme asesmen yang tidak selaras dengan kompetensi kultural. Artikel ini merekomendasikan penguatan kurikulum berbasis kearifan lokal maritim, pengembangan asesmen performatif, kolaborasi sekolah–komunitas pesisir, serta pilot project berbasis bukti sebagai langkah mengubah aturan ranah pendidikan agar modal budaya maritim memperoleh legitimasi simbolik. Temuan literatur menunjukkan bahwa integrasi budaya maritim dalam pendidikan dapat meningkatkan kedisiplinan, rasa tanggung jawab, kepedulian lingkungan, ketangguhan psikologis, serta identitas pelajar sebagai bagian dari bangsa bahari. Model ini juga berpotensi menjadi strategi dekolonisasi pendidikan, karena mengangkat epistemologi lokal yang selama ini termarginalkan dalam paradigma pendidikan modern. Dengan demikian, budaya maritim bukan sekadar warisan antropologis, tetapi dapat berfungsi sebagai basis pedagogis yang strategis untuk membangun karakter pelajar Indonesia di era global. Integrasi nilai kemaritiman dengan pendekatan Bourdieu memberikan dasar teoretis yang kuat untuk memahami proses pembentukan karakter sebagai praktik sosial yang berkelanjutan.
Copyrights © 2026