Sanggar Seni Bergulur Mapan merupakan kelompok kesenian di Kampung Linggang Mapan yang masih mempertahankan Rijoq. Rijoq merupakan nyanyian vokal serupa pantun dan syair yang berbahasa Dayak Tunjung dan Benuaq. Seiring waktu, penampilan Rijoq dari Sanggar Seni Bergulur Mapan mengalami penurunan, akibat populernya lagu pop daerah yang menimbulkan kesalahan persepsi pemuda-pemudi Kampung Linggang Mapan terkait Rijoq. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui unsur musik pada Rijoq dan resistensi Sanggar Seni Bergulur Mapan dalam mempertahankan Rijoq. Penelitian ini menggunakan pendekatan Musikologi dari Jean Ferris untuk menganalisis unsur musik Rijoq dan pendekatan Sosiologi dari James C. Scott untuk menganalisis resistensi dalam mempertahankan Rijoq. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui studi pustaka, observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan dua bentuk Rijoq (jangan berpacaran dan janji dari kecil) yang memiliki unsur musik berupa tema, melodi, frase, skala, serta melismatis dan silabis. Rijoq yang masih dipertahankan melalui dua bentuk resistensi: resistensi tertutup (argumentasi dari pemerintah kampung dan adat, serta diskusi internal Sanggar Seni Bergulur Mapan) dan resistensi terbuka (pembelajaran Rijoq dan kegiatan workshop Rijoq).
Copyrights © 2025