Penelitian ini membahas representasi bela negara influencer di media sosial. Salah satu influencer, yakni Jerome (@jeromepolin) mengunggah tujuh dokumen mengenai tuntutan 17+8. Tuntutan ini adalah bentuk penolakan dari masyarakat terhadap kenaikan tunjangan DPR RI dan tindakan represif aparat. Untuk menganalisis tuntutan tersebut, penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Metode yang digunakan adalah Analisis Wacana Kritis Fairclough yang meliputi tiga dimensi, yakni text analysis, discourse practice, dan sociocultural practice. Dari hasil analisis, dokumen tuntutan 17+8 menunjukkan bahwa pada dimensi text analysis, tuntutan 17+8 direpresentasikan sebagai desakan kolektif yang harus dipenuhi. Pada dimensi discourse practice, tuntutan 17+8 diproduksi berdasarkan hasil rangkuman aspirasi rakyat; didistribusikan di media sosial; dan dikonsumsi secara pro-kontra oleh khalayak. Sementara itu, pada dimensi sociocultural practice, tuntutan 17+8 merefleksikan ketegangan politik antara rakyat dengan pemerintah; menegaskan media sosial sebagai ruang bagi influencer untuk mengartikulasikan semangat bela negara dan memperjuangkan demokrasi di era digital.
Copyrights © 2025