ABSTRACT Cases of non-physical bullying (verbal and relational) that are difficult to detect remain a major issue at SMP Negeri 3 Kawunganten. Students’ reluctance to report incidents makes it challenging for the school to monitor covert bullying behaviors. Pre-observation results from five classes (7A–7E) revealed a discrepancy between the low number of reports on physical bullying and the high occurrence of non-physical bullying, while the school lacks a specific instructional program focused on bullying prevention. Based on these problems, this study aims to examine the process and effectiveness of implementing Digital Fable Learning as an intervention to strengthen anti-bullying character. This research employed a qualitative case study approach using observation, interviews, and documentation. The intervention used a digital fable titled “The Patient Duck”, implemented through three stages: planning, implementation, and reflection/follow-up. The findings indicate that digital fable learning is an effective and structured method for developing anti-bullying character. The intervention strengthened five core character aspects: empathy, respect and tolerance, responsibility, self-control, and moral courage. The conflict narratives in the fable stimulated students’ affective and cognitive awareness and encouraged bystander moral responsibility to report incidents and act fairly. These outcomes help the school identify non-physical bullying cases that are often hidden. The study recommends integrating digital fable learning into the curriculum and supporting it with a more structured digital reporting system. ABSTRAK Kasus bullying nonfisik (verbal dan relasional) yang sulit terdeteksi masih menjadi persoalan utama di SMP Negeri 3 Kawunganten. Minimnya keberanian siswa untuk melaporkan insiden membuat sekolah kesulitan memantau perilaku bullying yang bersifat terselubung. Hasil pra-observasi pada lima kelas (7A–7E) menunjukkan adanya ketidaksesuaian antara rendahnya laporan bullying fisik dan tingginya kasus bullying nonfisik, sementara sekolah belum memiliki program pembelajaran spesifik yang berfokus pada pencegahan bullying. Berdasarkan permasalahan tersebut, penelitian ini bertujuan mengkaji proses dan efektivitas implementasi Pembelajaran Fabel Digital sebagai intervensi penguatan karakter anti-bullying. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif jenis studi kasus dengan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Intervensi dilakukan melalui fabel digital “Bebek yang Sabar” yang diterapkan dalam tiga tahap: perencanaan, pelaksanaan, serta refleksi dan tindak lanjut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran fabel digital merupakan metode yang efektif dan terstruktur dalam membangun karakter anti-bullying. Intervensi ini memperkuat lima aspek karakter utama, yakni empati, respek dan toleransi, tanggung jawab, kontrol diri, dan keberanian moral. Narasi konflik dalam fabel mampu memicu kesadaran afektif dan kognitif siswa, serta mendorong tanggung jawab moral saksi (bystander responsibility) untuk melapor dan bertindak adil. Temuan ini membantu sekolah dalam mengidentifikasi kasus bullying nonfisik yang selama ini sulit terlihat. Penelitian merekomendasikan integrasi pembelajaran fabel digital ke dalam kurikulum serta dukungan sistem pelaporan digital yang lebih terstruktur.
Copyrights © 2025