Fenomena kemiskinan, ketidakadilan, dan bias gender masih menjadi tantangan mendasar bagi masyarakat kontemporer, termasuk umat Islam. Kondisi ini menunjukkan bahwa dakwah, yang semestinya berfungsi sebagai instrumen transformatif, sering kali terjebak dalam pola normatif dan reproduktif sehingga belum mampu menjawab persoalan sosial secara substantif. Penelitian ini bertujuan mengembangkan kerangka dakwah emansipatoris dengan memanfaatkan teori sosial kritis Habermas, Bourdieu, dan Giddens sebagai dasar konseptual untuk memperkuat peran dakwah dalam perubahan sosial. Pendekatan yang digunakan bersifat kualitatif dengan metode critical discourse analysis melalui kajian literatur dan analisis kasus dakwah terkait isu sosial. Hasil analisis menunjukkan bahwa Habermas merekonstruksi dakwah sebagai ruang diskursif bebas dominasi yang menumbuhkan kesadaran kritis; Bourdieu memahami dakwah sebagai arena transformasi habitus dan kapital simbolik; sedangkan Giddens menegaskan peran refleksif dakwah dalam relasi agen–struktur sosial. Sintesis ketiganya melahirkan model dakwah emansipatoris berprinsip pada komunikasi kritis, pembongkaran struktur dominatif, dan pemberdayaan agen sosial menuju keadilan sosial.
Copyrights © 2025