Laporan penelitian ini menyajikan sebuah Semantic Literature Review (SLR) yang komprehensif dan mendalam mengenai pergeseran paradigma etika dalam profesi Teknologi Informasi (TI), yang dipicu oleh adopsi massal Generative Artificial Intelligence (GenAI). Dalam kurun waktu lima tahun terakhir (2020-2025), lanskap rekayasa perangkat lunak telah mengalami disrupsi fundamental, di mana sistem AI tidak lagi hanya berfungsi sebagai alat analisis data pasif, melainkan sebagai agen aktif yang menghasilkan konten kreatif, kode program, dan keputusan otonom. Studi ini menganalisis secara kritis korpus literatur ilmiah yang dikumpulkan dari Google Scholar, IEEE Xplore, dan basis data bereputasi lainnya untuk memetakan lintasan diskursus etika, mengidentifikasi klaster semantik utama, dan mengevaluasi respons komunitas TI terhadap dilema moral baru. Analisis semantik mengungkapkan lima klaster tema dominan yang saling berinteraksi: (1) Bias Algoritmik dan Keadilan Sosial, yang menyoroti bagaimana dataset pelatihan berskala besar mereplikasi dan memperkuat ketimpangan struktural; (2) Hak Kekayaan Intelektual dan Otoritas, yang berfokus pada kekosongan hukum terkait kepemilikan konten hasil AI dan gelombang tuntutan hukum terkini; (3) Privasi dan Integritas Data, menyoroti risiko shadow AI dan kebocoran data sensitif; (4) Disinformasi dan Integritas Demokrasi, terkait erosi kepercayaan publik akibat halusinasi AI dan deepfakes; serta (5) Dampak Lingkungan, yang menelaah jejak karbon masif dari pelatihan Large Language Models (LLM). Temuan ini menegaskan bahwa profesional TI kini menghadapi "kewajiban ganda": kompetensi teknis yang unggul dan kewaspadaan etis yang radikal. Studi ini mengusulkan kerangka kerja etika adaptif yang mengintegrasikan prinsip transparansi, akuntabilitas, dan keberlanjutan ke dalam siklus hidup pengembangan sistem, mendesak reformasi kurikulum pendidikan TI, dan menuntut tata kelola perusahaan yang lebih ketat.
Copyrights © 2025