Industri batik di Indonesia menghadapi berbagai tantangan, mulai dari keterbatasan bahan baku, kapasitas sumber daya manusia, isu lingkungan, hingga pemasaran. Melalui program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM), PT Agincourt Resources (PTAR) berupaya memberdayakan perempuan di Tapanuli Selatan melalui pengembangan Kelompok Usaha Bersama (KUB) Batik Tapanuli Selatan. Program ini dirancang untuk meningkatkan kemandirian UMKM batik lokal dengan pendekatan Plan-Do-Check-Action (PDCA) dan Logical Framework Analysis (LFA). Berbagai kegiatan telah dilakukan, antara lain pelatihan membatik, manajemen usaha, inovasi produk, hingga studi banding pengelolaan limbah. Hasilnya, KUB Batik Tapsel dan KUB Bator Craft mampu menghasilkan motif dan produk turunan batik yang berdaya saing serta menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat. Selain memberikan kontribusi pada peningkatan pendapatan rumah tangga, program ini juga mendorong partisipasi perempuan dalam ekonomi kreatif, memperkuat jejaring usaha lokal, serta mendukung pencapaian beberapa tujuan SDGs, khususnya kesetaraan gender, pekerjaan layak, pertumbuhan ekonomi, dan pelestarian budaya. Dengan demikian, program ini menjadi model pemberdayaan berbasis komunitas yang efektif untuk mengembangkan industri kreatif sekaligus memperkuat posisi perempuan dalam pembangunan ekonomi lokal.
Copyrights © 2025