Perkembangan platform TikTok Live telah melahirkan fenomena sosial baru yang dikenal sebagai “pengemis online”, di mana individu mempertontonkan narasi kemiskinan dan kebutuhan untuk memperoleh hadiah virtual (virtual gift) yang dapat dikonversi menjadi uang. Penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi ini bertujuan untuk memahami konstruksi makna dan pengalaman subjektif penonton dalam memaknai fenomena tersebut. Dengan menggunakan Teori Manajemen Kesan Erving Goffman sebagai lensa analisis, hasil penelitian mengungkap bahwa siaran langsung berfungsi sebagai panggung depan (front stage) yang dikurasi secara strategis. Para pelaku membangun performa melalui setting yang memprihatinkan, appearance yang lusuh, dan manner yang memelas atau menghibur, sementara kehidupan di luar siaran merupakan panggung belakang (back stage) untuk mempersiapkan pertunjukan. Analisis terhadap komentar penonton menunjukkan polarisasi persepsi: di satu sisi, pemberian gift dimaknai sebagai bentuk apresiasi dan empati; di sisi lain, praktik ini dinilai sebagai eksploitasi dan kegagalan moral. Penelitian ini menyimpulkan bahwa fenomena ini bukan sekadar strategi ekonomi, melainkan sebuah pertunjukan dramaturgis yang mengkomodifikasi empati dan merekonfigurasi nilai-nilai sosial di ruang digital, sehingga menuntut kesadaran kritis dari semua pihak.
Copyrights © 2025