ABSTRAKBody Notation adalah karya eksperimental yang mentransformasikan teknik musikal polymeter ke dalam bahasa tubuh, sekaligus menjadi solusi kreatif atas permasalahan "gending sing ngidang ngigelang" (musik yang tidak bisa ditarikan) di kalangan koreografer Bali. Penelitian ini menganalisis perkembangan kemampuan penari dan calon koreografer dalam merespons kompleksitas polymeter teknik musikal yang menggunakan dua ukuran birama berbeda dalam tempo sama, setelah diterapkan dalam praktik gerak. Melalui metode Alma Hawkins (eksplorasi, improvisasi, dan pembentukan). Eksperimen tahap awal ini menunjukkan bahwa transformasi polymeter memerlukan panduan tempo untuk mempertahankan konsistensi birama, sekaligus melatih kepekaan kinestetik penari. Temuan utamanya adalah perubahan signifikan dalam cara tubuh merespons tempo dan struktur musik—awalnya bergantung pada petunjuk eksternal (metronome), kemudian berkembang menjadi pemahaman internal melalui pengalaman gerak. Body Notation tidak hanya menjawab tantangan "gending sing ngidang ngigelang", serta membuka ruang bagi penciptaan tari kontemporer berbasis musikalitas kompleks. Implikasinya, karya ini menjadi fondasi untuk eksperimen lanjutan dalam mengintegrasikan polymeter dengan gerak tari Bali, dengan tujuan akhir mengubah paradigma dari "musik yang tidak bisa ditarikan" menjadi "ngigelang gending" (menarikan musik).ABSTRACTBody Notation is an experimental work that transforms the musical technique of polymeter into bodily language, while serving as a creative solution to the problem of "gending sing ngidang ngigelang" (music that cannot be danced to) among Balinese choreographers. This study analyzes the development of dancers' and aspiring choreographers' ability to respond to the complexity of polymeter—a musical technique that employs two different time signatures within the same tempo— when applied to movement practice. Using Alma Hawkins' method (exploration, improvisation, and formation), this preliminary experiment demonstrates that polymeter transformation requires tempo guidance to maintain rhythmic consistency while training dancers' kinesthetic sensitivity. The key finding is a significant shift in how the body responds to tempo and musical structure—initially relying on external cues (metronome) before evolving into internal understanding through movement experience. Body Notation not only addresses the challenge of "gending sing ngidang ngigelang" but also opens new possibilities for contemporary dance creation based on complex musicality. As such, this work lays the foundation for further experimentation in integratingpolymeter with Balinese dance movement, ultimately aiming to shift the paradigm from "music that cannot be danced to" to "ngigelang gending" (dancing the music).
Copyrights © 2025