Pendahuluan: Faringitis merupakan peradangan pada faring yang umum terjadi pada anak-anak hingga dewasa, dengan lebih dari 10 juta kunjungan rawat jalan setiap tahunnya, dan 50% kasus terjadi pada kelompok usia 5 hingga 24 tahun. Faringitis dapat disebabkan oleh infeksi virus atau bakteri. Penyebab tersering faringitis bakterial adalah Streptococcus pyogenes. Pengobatan utama faringitis bakterial saat ini adalah dengan menggunakan antibiotik, namun meningkatnya kejadian resistensi antimikroba mendorong pencarian terapi alternatif berbasis tanaman obat. Tinjauan literatur ini bertujuan untuk merangkum berbagai penelitian ekstrak tanaman dari seluruh dunia untuk memahami potensi ekstrak tanaman sebagai terapi alternatif untuk faringitis. Metode: Studi ini menggunakan metode narrative review dengan menggunakan pencarian komprehensif artikel pada database PubMed dan ScienceDirect dengan rentang tahun 2020–2025. Kriteria inklusi meliputi artikel in-vitro yang menilai aktivitas antibakteri tanaman terhadap S. pyogenes, memiliki nilai MIC, serta tanaman yang tumbuh di Indonesia. Artikel yang tidak memfokuskan pada aktivitas mikrobiologi dieksklusi. Pembahasan: Delapan artikel terpilih mengulas berbagai spesies tanaman yang memiliki potensi antimikroba. Ekstrak biji Spondias pinnata dan buah Sapindus rarak menunjukkan potensi tertinggi dengan MIC 0.000039 mg/mL. Senyawa aktif seperti flavonoid dan saponin diketahui bekerja melalui mekanisme quorum sensing inhibition dan gangguan membran bakteri. Efektivitas ekstrak dipengaruhi oleh jenis pelarut dan metode ekstraksi yang digunakan. Simpulan: Tanaman obat yang tumbuh di Indonesia memiliki potensi sebagai alternatif terapi faringitis akibat S. pyogenes. Senyawa bioaktif dalam tanaman-tanaman tersebut dapat menjadi solusi dalam mengurangi penggunaan antibiotik dan menghambat perkembangan resistensi antimikroba.
Copyrights © 2025