Sejarah dan tradisi gereja memberikan kepada kita beragam sumber yang menjadi sarana anugrah bagi pembentukan spiritualitas orang percaya. Doa, penuntun pembacaan Alkitab, pengakuan iman, dan katekismus merupakan beberapa sumber yang dapat dipakai dalam sejarah Gereja yang memuat intisari pengajaran iman Kristen. Namun setiap denominasi gereja mempunyai tawaran tersendiri untuk memberdayakan spiritualitas umat Tuhan. Maka dari itu, diperlukan adanya salah satu bentuk sarana anugrah bagi pertumbuhan iman umat Tuhan yang bersumber bukan saja serta merta dari Alkitab, namun juga memiliki kontinuitas antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Shema yang merupakan doa yang diajarkan kepada orang Israel yang akan memasuki tanah perjanjian dapat menjadi salah satu doa yang dipanjatkan sebagai bagian pembentukan spiritualitas. Hal ini karena Shema yang merangkum inti iman orang Israel bukan saja berbentuk doa, namun memiliki aspek kontinuitas dengan Perjanjian Baru. Kajian ini menganalisis Shemadengan menggunakan metode eksegese yang merujuk pada bahasa asli (Ibrani). Hal ini ditujukan untuk menarik keluar makna Shema sehingga bersuara sebagaimana ia ditulis bagi penerima mula-mula. Pembahasan singkat Shema dalam Perjanjian Baru ditinjau dari gambaran besar dari keempat Injil untuk menunjukan kontinuitasnya bagi gereja mula-mula. Bagian kesimpulan memuat perbandingan parallel sederhana antara Shema yang dipanjatkan oleh orang Israel di Perjanjian Lama dengan Shema dalam implikasinya bagi pembentukan spiritualitas petobat baru. Kata kunci: Shema, spiritualitas, kerohanian, petobat baru
Copyrights © 2024