Artikel ini menyoroti krisis mistagogi dalam Pendidikan Agama Kristen (PAK) kontemporer yang cenderung menekankan aspek kognitif-informatif, tanpa menuntun naradidik masuk pada pengalaman iman yang transformatif. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif historis-teologis, tulisan ini mengintegrasikan visi theosis dari tradisi patristik dengan falsafah Jawa tentang manunggaling kawula Gusti, serta kerangka pedagogis shared praxis ala Groome. Theosis dipahami sebagai tujuan akhir PAK, yakni transformasi menuju keserupaan dengan Kristus, sementara manunggaling kawula Gusti dipandang sebagai jembatan kontekstual yang memperkaya pemahaman iman dalam horizon budaya lokal. Shared praxis dihadirkan sebagai strategi mistagogis untuk membimbing naradidik dari pengalaman hidup menuju penghayatan iman yang mendalam. Artikel ini menyimpulkan bahwa sinergi antara theosis, manunggaling kawula Gusti, dan shared praxis dapat merumuskan sebuah model PAK mistagogis-kontekstual yang dialogis, partisipatif, dan transformatif bagi gereja serta pendidikan Kristen di Indonesia.
Copyrights © 2025