Desa Kelampayan di Kecamatan Astambul, Kabupaten Banjar, merupakan daerah pertanian padi varietas lokal di lahan non-irigasi yang hanya panen sekali setahun. Selain sebagai desa agraris, Kelampayan juga menjadi lokasi wisata religi karena adanya Makam Ulama Besar Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari, yang ramai dikunjungi peziarah. Fenomena sosial yang mencolok adalah kehadiran petani yang mengemis saat musim ziarah. Penelitian ini bertujuan menggambarkan kondisi petani dari aspek demografi, sosial, ekonomi, dan budaya, serta mengidentifikasi permasalahan yang mereka hadapi. Sampel terdiri dari 30 petani, separuh di antaranya melakukan aktivitas mengemis. Hasil menunjukkan sebagian besar petani berada di usia produktif, berpendidikan rendah (80% lulusan SD), dan rata-rata hanya memiliki lahan kurang dari 0,5 hektar, sebagian besar dengan sistem sewa. Pendapatan bersih rata-rata petani hanya sekitar Rp756.074 per bulan, tidak mencukupi kebutuhan dasar. Sebagian petani mengemis sebagai sumber tambahan, dengan pendapatan harian Rp20.000–Rp30.000, meskipun tidak menentu. Permasalahan utama meliputi keterbatasan modal (21,43%), ketergantungan musim (20%), keterampilan bertani (17,86%), biaya pupuk dan pestisida (14,29%), tidak memiliki lahan (14,29%), serta serangan hama dan penyakit (10,71%). Diperlukan penelitian lanjutan untuk penelitian sejenis, perlu pelatihan keterampilan di bidang pertanian dan non-pertanian untuk meningkatkan ekonomi rumah tangga dan perhatian khusus pada pemerintah terkait ketergantungan musim.
Copyrights © 2025