Kelompok tani di Desa Mangunreja, Tasikmalaya menghadapi krisis pupuk kimia yang menyebabkan penurunan hasil panen hingga 50%. Penelitian ini mengembangkan solusi berbasis pemanfaatan kotoran walet sebagai pupuk organik cair melalui proses fermentasi. Metode pembuatan melibatkan: (1) pengumpulan dan penghalusan kotoran walet, (2) pencampuran dengan EM4 dan molase, (3) fermentasi 7-10 hari, serta (4) penyaringan untuk menghasilkan pupuk cair. Analisis menunjukkan produk akhir mengandung unsur hara makro (N 2,1%, P 1,8%, K 1,5%) dan mikro (Ca, Mg) yang essensial bagi tanaman. Implementasi program pengabdian masyarakat tahun 2024 berfokus pada tiga aspek: produksi pupuk organik, formulasi pestisida alami, dan pengembangan pemasaran produk. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan 35% produktivitas lahan percobaan dengan biaya produksi 40% lebih murah dibanding pupuk kimia. Inovasi ini tidak hanya mengatasi kelangkaan pupuk tetapi juga mendorong pertanian berkelanjutan berbasis sumber daya lokal.
Copyrights © 2025