Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pemanfaatan Limbah Burung Walet Sebagai Bahan Pupuk: Studi Kasus Desa Mangunreja Adityas Widjajarto; Muhammad Ilham Maulana; Cindy Muhdiantini
NJCOM: Community Service Journal Vol. 1 No. 2 (2025): July
Publisher : RAM PUBLISHER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/zenodo.15808006

Abstract

Kelompok Masyarakat Dawagung (KMD) Kampung Kaum Selatan, Desa Mangunreja, mengalami kelangkaan pupuk dan pestisida yang berdampak signifikan terhadap hasil pertanian. Hampir seluruh gapoktan, termasuk Gapoktan Kalapasewu, merasakan dampaknya, dengan penurunan panen hingga 50% dan beberapa lahan mengalami gagal panen total. Berdasarkan survei dan wawancara dengan Ketua Gapoktan, Defris Triyanto, ditemukan potensi pemanfaatan kotoran burung walet sebagai alternatif pupuk organik. Kotoran ini mengandung unsur hara tinggi seperti C-Organik, Nitrogen, Fosfor, Kalium, Kalsium, dan Magnesium yang mampu meningkatkan kesuburan tanah (Nurlaela & Patadungan, 2023). Untuk mengatasi masalah ini, tim pengabdian masyarakat tahun 2024 akan melaksanakan empat kegiatan utama: 1) pelatihan pembuatan pupuk organik dari kotoran walet, 2) pelatihan pembuatan pestisida organik, 3) pelatihan komersialisasi produk, dan 4) pelatihan pemasaran hasil produksi kepada mitra.
Pemanfaatan Limbah Kotoran Burung Walet Menjadi Pupuk Buatan Dan Cairan Pestisida Pembasmi Hama Sebagai Solusi Kelangkaan Pupuk Bagi Gabungan Kelompok Tani Adityas Widjajarto; Muhammad Ilham Maulana; Mega Fitri Yani
NJCOM: Community Service Journal Vol. 1 No. 2 (2025): July
Publisher : RAM PUBLISHER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/zenodo.15814432

Abstract

Kelompok tani di Desa Mangunreja, Tasikmalaya menghadapi krisis pupuk kimia yang menyebabkan penurunan hasil panen hingga 50%. Penelitian ini mengembangkan solusi berbasis pemanfaatan kotoran walet sebagai pupuk organik cair melalui proses fermentasi. Metode pembuatan melibatkan: (1) pengumpulan dan penghalusan kotoran walet, (2) pencampuran dengan EM4 dan molase, (3) fermentasi 7-10 hari, serta (4) penyaringan untuk menghasilkan pupuk cair. Analisis menunjukkan produk akhir mengandung unsur hara makro (N 2,1%, P 1,8%, K 1,5%) dan mikro (Ca, Mg) yang essensial bagi tanaman. Implementasi program pengabdian masyarakat tahun 2024 berfokus pada tiga aspek: produksi pupuk organik, formulasi pestisida alami, dan pengembangan pemasaran produk. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan 35% produktivitas lahan percobaan dengan biaya produksi 40% lebih murah dibanding pupuk kimia. Inovasi ini tidak hanya mengatasi kelangkaan pupuk tetapi juga mendorong pertanian berkelanjutan berbasis sumber daya lokal.