Syair-syair Kerajaan Bima merupakan warisan sastra tradisional yang memiliki kedudukan penting dalam membentuk identitas budaya dan religius masyarakat Bima. Penelitian ini bertujuan mengungkap dan menganalisis nilai-nilai religius yang direpresentasikan dalam syair-syair tersebut melalui pendekatan Analisis Wacana Kritis (AWK) model Fairclough, van Dijk, dan Wodak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa syair-syair Kerajaan Bima sarat dengan nilai ketauhidan, etika keislaman, penguatan moral sosial, serta legitimasi kekuasaan melalui simbol-simbol religius serta legitimasi politik. Bahasa syair yang sarat metafora religius, struktur naratif moral, serta penggunaan repetisi memperlihatkan bagaimana kerajaan membangun hegemoni religius dan struktur kognitif masyarakat. Temuan menunjukkan bahwa syair tidak hanya menjadi karya sastra, tetapi juga instrumen sosial, spiritual, dan politis yang mengatur kesadaran kolektif dan memperkuat tatanan sosial masyarakat Bima.
Copyrights © 2025