Penelitian ini menyoroti proses penentuan wilayah administratif paling potensial di DKI Jakarta untuk pengembangan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) sektor kuliner dengan memanfaatkan metode Simple Additive Weighting (SAW). Salah satu hambatan utama yang dihadapi calon pelaku usaha adalah kesulitan dalam memilih lokasi bisnis yang sesuai dengan potensi wilayah, sehingga banyak usaha kuliner tidak berkembang optimal. Metode SAW dipilih karena mampu mengolah data multikriteria secara objektif melalui tahapan normalisasi dan pemberian bobot. Penelitian ini menggunakan dua indikator utama, yaitu jumlah pelaku usaha dan tingkat pendapatan di setiap wilayah. Berdasarkan hasil analisis, Jakarta Selatan menjadi wilayah dengan potensi tertinggi untuk pengembangan UMKM kuliner, disusul oleh Jakarta Timur, sedangkan Kepulauan Seribu memiliki potensi terendah. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan praktis bagi calon wirausaha dalam menentukan lokasi bisnis yang strategis, serta menjadi bahan pertimbangan pemerintah daerah dalam menyusun kebijakan pengembangan UMKM berbasis wilayah.
Copyrights © 2025