Kesenjangan komunikasi antara komunitas tunarungu dan masyarakat umum, yang diperburuk oleh desain antarmuka (UI) dan pengalaman pengguna (UX) yang belum optimal pada aplikasi penerjemah, menjadi hambatan signifikan bagi inklusi sosial. Penelitian ini bertujuan untuk merancang dan mengevaluasi prototipe antarmuka aplikasi penerjemah bahasa isyarat "Isyaratku" yang berpusat pada pengguna. Metodologi penelitian mengadopsi pendekatan User-Centered Design (UCD) , dengan tahap pengumpulan data kualitatif melalui observasi dan kuesioner skala Likert terhadap guru di SLB PGRI Plosoklaten untuk mengidentifikasi kebutuhan esensial. Hasil analisis kebutuhan menunjukkan preferensi tinggi (rata-rata skor > 4.2 dari 5) terhadap fitur penerjemahan real-time, antarmuka sederhana, dan elemen interaktif yang jelas. Sebuah prototipe high-fidelity dikembangkan menggunakan Figma. Evaluasi kegunaan awal mengindikasikan persepsi positif mayoritas responden terhadap kemudahan penggunaan (skor 5/5) dan tingkat kepercayaan diri yang tinggi (skor 4/5). Meskipun demikian, penelitian ini juga mengidentifikasi adanya anomali persepsi berupa kebingungan antarmuka dari satu responden, yang menjadi temuan krusial untuk desain selanjutnya.
Copyrights © 2025