Gangguan menstruasi adalah masalah signifikan pada remaja yang dapat memengaruhi kualitas hidup dan aktivitas sehari-hari. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan tingkat stres dengan kejadian dismenore pada remaja putri di SMA Negeri 2 Sibolga. Penelitian menggunakan desain survei analitik cross-sectional dengan 36 responden yang terdiri dari 12 sampel kasus dan 24 sampel kontrol, dipilih melalui teknik non-probability sampling. Data diperoleh menggunakan kuesioner tingkat stres dan keparahan dismenore, serta dianalisis menggunakan korelasi Spearman rank. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden berusia 16 tahun. Sebanyak 40% mengalami stres ringan, 51,1% stres sedang, dan 8,9% stres berat. Tingkat keparahan dismenore bervariasi, dengan 48,9% responden mengalami dismenore ringan, 33,3% sedang, dan 17,8% berat. Analisis statistik menunjukkan hubungan signifikan antara tingkat stres dan kejadian dismenore (p-value = 0,000; koefisien korelasi Spearman = 0,656), dengan kekuatan hubungan kategori kuat. Stres memengaruhi dismenore melalui mekanisme neuroendokrin yang meningkatkan kadar kortisol dan ketidakseimbangan hormonal, sehingga memicu aktivitas prostaglandin dan kontraksi uterus.
Copyrights © 2024