Indonesia merupakan negara yang rawan terhadap bencana gempa bumi karena berada di pertemuan tiga lempeng tektonik utama dunia. Dampak gempa tidak hanya berupa kerusakan fisik dan korban jiwa, tetapi juga menimbulkan masalah psikologis seperti kecemasan, depresi, dan gangguan stres pascatrauma (PTSD). Penelitian ini bertujuan mengkaji peran psikologi dalam penanggulangan bencana gempa bumi, baik pada tahap kesiapsiagaan, tanggap darurat, maupun rehabilitasi pascabencana. Metode yang digunakan adalah studi literatur dengan pendekatan deskriptif analitis melalui telaah berbagai sumber ilmiah mengenai psikologi bencana, coping mechanism, resiliensi, serta intervensi psikologis. Hasil kajian menunjukkan bahwa trauma psikologis pascagempa dapat dialami oleh semua kelompok usia dengan karakteristik yang berbeda-beda, mulai dari anak-anak hingga lansia. Intervensi psikologis seperti Psychological First Aid (PFA), terapi kognitif-perilaku, konseling kelompok, serta penguatan jejaring sosial terbukti efektif dalam menurunkan gejala trauma dan meningkatkan ketahanan mental korban. Selain itu, kesiapsiagaan psikologis sebelum bencana melalui edukasi dan pelatihan coping juga berperan penting dalam mengurangi dampak stres pascabencana. Kesimpulannya, pendekatan psikologis harus diintegrasikan secara menyeluruh dalam sistem penanggulangan bencana gempa bumi agar pemulihan tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga menyentuh aspek mental dan sosial masyarakat.
Copyrights © 2025