Background: Indonesia is frequently affected by natural disasters, with incidents increasing from 2,574 in 2018 to 5,400 in 2023. Victim identification is a vital component of disaster response efforts. In forensic odontology, anatomical structures such as the incisive papilla and lip print patterns (cheiloscopy) serve as potential tools for identification. The incisive papilla offers advantages due to its morphological stability and protected position within the oral cavity, while lip prints are considered reliable due to their uniqueness and resistance to minor trauma. However, comparative studies assessing the accuracy of both methods in sex determination remain scarce and warrant further scientific investigation. Purpose: To analyze the difference in reliability between lip print patterns and incisive papilla in identifying sex among the Banjar ethnic group. Methods: This study employed a simple random sampling technique and utilized a non-paired categorical comparative analytic design. A cross-sectional approach was applied, involving observation and data collection conducted at a single point in time. Results: Based on Cohen’s Kappa coefficient, lip print pattern analysis demonstrated strong reliability (K = 0.839), whereas incisive papilla shape showed moderate reliability (K = 0.653). The Mann Whitney test identified statistically significant sex-based differences in lip print patterns within the Upper Right and Lower Middle quadrants, as well as notable morphological differences in incisive papilla shape between male and female subjects. Conclusion: Lip print patterns demonstrate higher reliability compared to the shape of the incisive papilla in determining sex among the Banjar ethnic population.Keywords: Forensic Odontology, Incisive Papilla, Lip Prints ABSTRAKLatar Belakang: Indonesia sering dilanda bencana alam, dengan 2.574 kejadian pada 2018 dan meningkat menjadi 5.400 pada 2023. Identifikasi korban menjadi langkah krusial, di mana metode identifikasi menggunakan papilla insisif dan pola sidik bibir dari rongga mulut dapat dimanfaatkan. Papilla insisif dinilai digunakan karena memiliki ciri stabil, terlindungi dalam rongga mulut, serta bentuk yang bervariasi berdasarkan jenis kelamin. Pola sidik bibir (cheiloscopy) juga unik dan tahan terhadap trauma minor, sehingga sering digunakan dalam odontologi forensik. Namun, studi mengenai perbandingan reliabilitas keduanya dalam penentuan jenis kelamin masih terbatas dan perlu diteliti lebih lanjut. Tujuan: Untuk menganalisis perbedaan reliabilitas antara pola sidik bibir dan papilla insisif dalam mengidentifikasi jenis kelamin pada suku Banjar. Metode: Penelitian ini menggunakan metode simple random sampling dan bersifat analitik komparatif kategorik tidak berpasangan. Pendekatan yang digunakan pada penelitian ini adalah pendekatan cross-sectional dengan mengamati, observasi, maupun pengumpulan data pada satu waktu yang sama. Hasil: Berdasarkan uji Cohen’s Kappa, reliabilitas pola sidik bibir menunjukkan kategori kuat dengan nilai K = 0,839, sedangkan bentuk papila insisif memiliki reliabilitas sedang dengan nilai K = 0,653. Uji Mann-Whitney menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara jenis kelamin terhadap pola sidik bibir pada kuadran UR dan LM, serta terhadap bentuk papila insisif. Kesimpulan: Pola sidik bibir lebih reliabel dibandingkan bentuk papilla insisif dalam mengidentifikasi jenis kelamin pada suku Banjar.Kata Kunci: Odontologi Forensik, Papilla Insisif, Sidik Bibir
Copyrights © 2025