Bencana Lumpur Lapindo di Sidoarjo sejak 2006 tidak hanya menimbulkan kerusakan fisik dan kehilangan tempat tinggal, tetapi juga berdampak mendalam terhadap kondisi psikologis remaja yang menjadi korban relokasi. Pada masa perkembangan identitas, remaja harus menghadapi kehilangan rumah, komunitas, serta stabilitas sosial, yang memicu kecemasan, isolasi sosial, penurunan motivasi belajar, dan kebingungan identitas. Tulisan ini bertujuan mengkaji dampak psikologis relokasi terhadap remaja korban Lumpur Lapindo serta menelaah peran resiliensi dan Psychological First Aid (PFA) dalam mendukung pemulihan mereka. Metode yang digunakan adalah studi literatur dengan pendekatan deskriptif analitis terhadap berbagai penelitian tentang relokasi, perkembangan remaja, resiliensi, dan intervensi PFA. Hasil kajian menunjukkan bahwa remaja yang tidak mendapat dukungan psikososial memadai berisiko mengalami gangguan hubungan sosial, rendah diri, dan pandangan negatif terhadap masa depan. Sebaliknya, resiliensi dapat diperkuat melalui dukungan keluarga, komunitas, keterlibatan dalam aktivitas positif, serta penerapan PFA yang menekankan rasa aman, ketenangan, koneksi sosial, penguatan kemampuan diri, dan optimisme. Program berbasis sekolah, peran guru dan konselor, serta pendekatan partisipatif berbasis komunitas menjadi kunci pemulihan yang lebih berkelanjutan. Kesimpulannya, penanganan korban relokasi harus memadukan kebijakan fisik dan sosial dengan intervensi psikologis yang berfokus pada penguatan resiliensi remaja.
Copyrights © 2025