Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menjelaskan bentuk perilaku waria Kota Bukittinggi dalam media sosial TikTok sebagai ruang publik virtual. Penelitian ini menarik dikaji karena menggambarkan realitas sosial waria sebagai kelompok minoritas dalam masyarakat ditengah perkembangan teknologi dan media massa yang pesat. Kebaruan penelitian ini terletak pada penggunaan fenomenologi untuk menggali pengalaman subjektif waria Kota Bukittinggi dalam media sosial TikTok menjadi ruang publik virtual bagi dirinya. Jenis penelitian menggunakan kualitatif tipe fenomenologi. Pemilihan informan menggunakan purposive pada 7 informan dengan kriteria seorang waria, pengguna Tiktok, melakukan livestreaming minimal 3 kali sehari serta jumlah like dan followers minimal 1k(1000). Pengumpulan data melalui observasi, wawancara mendalam dan studi dokumen. Data dianalisis dengan model analisis Miles dan Huberman meliputi reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan . Dengan analisis teori Fenomenologi Husserl, pengalaman kurang menyenangkan yang dialami pada kehidupan nyata mendorong waria melakukan perilaku menggunakan media sosial TikTok sebagai ruang publik virtualnya untuk mendapatkan penerimaan diri, ruang gerak yang lebih bebas dalam ekspresi diri atau eksistensi diri, pemenuhan kebutuhan hidup, dan interaksi sosial yang berarti bagi mereka yang tidak diperoleh dalam kehidupan nyata Temuan menunjukkan 5 bentuk perilaku waria Kota Bukittinggi dalam media sosial TikTok sebagai ruang publik virtual, yaitu (1)Mengekspresikan Diri, (2)Memperoleh Penghasilan, (3)Mencari Pasangan, (4)Menjalin Interaksi dengan Sesama Kelompok Minoritas dan Netizen, (5)Memitigasi Akun dan Perlakuan Buruk di TikTok. Penelitian ini berkontribusi sebagai bahan pertimbangan bagi pemerintah ataupun organisasi kemasyarakatan dalam merancang program edukasi terkait keberagaman gender, serta literatur awal tentang kelompok minoritas dan media sosial
Copyrights © 2025