Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya keteraturan sosial yang terbentuk melalui aturan-aturan yang bersifat mengikat guna memastikan nilai dan norma dapat berfungsi secara efektif dalam lingkungan masyarakat, termasuk lingkungan pendidikan. Pemilihan informan menggunakan teknik purposive sampling dengan informan jumlah 15 orang yang terdiri dari kepala sekolah, wakil kesiswaan, guru mata pelajaran, satpam, peserta didik, tata usaha, guru Bimbingan Konseling (BK), Tim TPPK, polisi keamanan sekolah (PKS). Pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Analisis data model interaktif Miles dan Huberman. Keabsahan data dilakukan dengan triangulasi data. Penelitian ini dianalisis menggunakan teori Struktural Fungsional Talcott Parsons dengan skema AGIL (Adaptation, Goal Attainment, Integration, Latency). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pelaksanaan sekolah aman anti kekerasan di SMAN 1 Suliki sudah berjalan walaupun belum optimal dan dalam menjalankan program sekolah aman anti kekerasan pihak sekolah melalukan pelaksanaan menjadi 3 tahapan yaitu tahap perencanaan, tahap pelaksanaan dan tahap evaluasi program. Dalam pelaksanaan program sekolah mengalami kendala berupa kurangnya kolaborasi tim, kurang, komunikasi yang tidak efektif, minimnya dukungan orang tua serta kurangnya fasilitas pengawasan seperti CCTV yang menyebabkan pelaksanaan program masih belum optimal dilakukan.
Copyrights © 2025