Penelitian ini membahas persoalan kekerasan dan intoleransi antarumat beragama di Kota Yogyakarta, dengan fokus pada relasi antara komunitas Islam dan Katolik. Meskipun Yogyakarta dikenal sebagai kota berbudaya, humanis, dan plural, dalam satu dekade terakhir muncul berbagai peristiwa intoleransi yang mencederai relasi sosial-keagamaan, salah satunya kasus pemotongan simbol salib pada makam warga Katolik di Kotagede. Penelitian ini bertujuan untuk mengurai akar persoalan kekerasan agama serta menawarkan dialog kehidupan sebagai jalan etis dan kultural untuk membangun perdamaian antarumat beragama. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif dan perspektif ekonomi-sosial, budaya, serta teori perlawanan sosial, artikel ini menunjukkan bahwa intoleransi tidak semata-mata dipicu oleh perbedaan teologis, melainkan juga oleh faktor struktural seperti ketimpangan ekonomi, identitas mayoritas–minoritas, stereotip historis, dan lemahnya dialog di tingkat akar rumput. Temuan penelitian menegaskan bahwa dialog kehidupan—yang diwujudkan melalui kerja sama sosial, solidaritas ekonomi, dan keterlibatan lintas iman—merupakan strategi efektif untuk meredam konflik dan membangun relasi kemanusiaan yang berkeadaban di masyarakat plural.
Copyrights © 2024