Gratia Wing Artha
Universitas Nasional Jakarta, Jakarta Selatan, Indonesia

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Mendialogkan Ajaran Agama Dengan Damai Valensius Ngardi; Gratia Wing Artha
Jurnal Peradaban Vol. 4 No. 2 (2024): Jurnal Peradaban
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Paramadina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51353/af9htc35

Abstract

Penelitian ini membahas persoalan kekerasan dan intoleransi antarumat beragama di Kota Yogyakarta, dengan fokus pada relasi antara komunitas Islam dan Katolik. Meskipun Yogyakarta dikenal sebagai kota berbudaya, humanis, dan plural, dalam satu dekade terakhir muncul berbagai peristiwa intoleransi yang mencederai relasi sosial-keagamaan, salah satunya kasus pemotongan simbol salib pada makam warga Katolik di Kotagede. Penelitian ini bertujuan untuk mengurai akar persoalan kekerasan agama serta menawarkan dialog kehidupan sebagai jalan etis dan kultural untuk membangun perdamaian antarumat beragama. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif dan perspektif ekonomi-sosial, budaya, serta teori perlawanan sosial, artikel ini menunjukkan bahwa intoleransi tidak semata-mata dipicu oleh perbedaan teologis, melainkan juga oleh faktor struktural seperti ketimpangan ekonomi, identitas mayoritas–minoritas, stereotip historis, dan lemahnya dialog di tingkat akar rumput. Temuan penelitian menegaskan bahwa dialog kehidupan—yang diwujudkan melalui kerja sama sosial, solidaritas ekonomi, dan keterlibatan lintas iman—merupakan strategi efektif untuk meredam konflik dan membangun relasi kemanusiaan yang berkeadaban di masyarakat plural.
Membuka Toleransi Beragam Dalam Merajut Harmoni Sosial : Belajar Memanusiakan-Manusia Melalui Toleransi Valensius Ngardi; Gratia Wing Artha
Jurnal Peradaban Vol. 5 No. 2 (2025): Jurnal Peradaban
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Paramadina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51353/46yeag07

Abstract

On the other hand, others are already striving to implement the values ​​inherent in us as citizens of Indonesian culture, such as egalitarianism, tolerance, and humanism, with interfaith dialogue that should adorn our daily lives with others. Furthermore, there is another view that the governance of religious diversity under the auspices of Pancasila and the 1945 Constitution does not guarantee the humane and wise recognition of religious rights regarding one's beliefs in the public sphere. Minority rights are often ignored due to the influence of various interests in identity politics, power relations, and hegemonic leadership. Each citizen still understands tolerance as merely discourse and an idea. In dialogue spaces, the implementation of a culture of tolerance becomes a heated discussion, although in certain areas, people can still coexist within the framework of differing beliefs. Identity politics is increasingly strengthened when relations between religious communities are fraught with group mapping based on identity, race, ethnicity, and religion. This simple article is merely a reflection aimed at presenting harmony of tolerance as a social control to prevent ripples of intolerance issues in Indonesia as the author's reflection on cases that touch on religion through various approaches. Three approaches: Power, Rights, & Interests, according to Samsu Rizal Panggabean, are a strong foundation in finding a space for togetherness and religious differences in Indonesia. For the case in this article, the author takes a power approach. This is also supported by Bhiku Parekh on the theory of religious tolerance in the context of multiculturalism. In addition, in the study of religious phenomenology, it is supported by Jacques Waardenburg's view of three urgent needs in studying Muslim-Christian relations as a fundamental framework by unraveling the problems of religious conflict that occur in Indonesian society today.
Menjadi Perempuan dalam Jaringan Gerakan Radikal : Sebuah Pengalaman Tentang Konstruksi Sosial, Agensi dan Paradigma Eksistensial vs Komunal Valensius Ngardi; Gratia Wing Artha
Jurnal Peradaban Vol. 5 No. 1 (2025): Jurnal Peradaban
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Paramadina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51353/axeqf949

Abstract

Artikel ini, bertujuan untuk menjelaskan status peran perempuan dalam aktivitas ekstremisme dan partisipasinya dalam aksi kekerasan dan gerakan jaringan radikal. Di beberapa masyarakat, peran perempuan tidak terlalu terlihat di ruang publik. Identitas mereka sering diabaikan. Begitu kuatnya relasi kekuasaan membuat peran mereka dalam masyarakat berbeda-beda. Ketika dominasi laki-laki kuat, maka peran perempuan dalam masyarakat berubah di banyak bidang  aspek kehidupan. Masyarakat yang mengkonstruksi perempuan menciptakan sterotip ganda. Pertama, perempuan lemah dan tidak berdaya. Jadi ada kekuatan penyeimbangnya yaitu laki-laki. Kedua, di beberapa lapisan masyarakat, perempuan termasuk dalam kelas sosial bawah (working class atau lower class), sedangkan laki-laki termasuk dalam kelas atas (upper class atau  elite class). Ketika perempuan pemberani dan heroik muncul di ruang publik, definisi-definisi yang sudah mapan pun hilang dari kontruksi sosial. Mereka berani melawan ketidakadilan dalam masyarakat dan  mereka bisa mandiri baik untuk keluarga maupun untuk dirinya. Peran mereka tidak hanya sekedar sebagai institusi sosial, tetapi mereka berperan penting dalam  perubahan sosial yang terjadi. Ketika perempuan melakukan aktivitas ekstrem dalam jaringan radikal, maka masyarakat semakin melihat sisi gelap yang tidak pernah berhenti, terutama di dunia komunitas Muslim. Aktivitas jihad dan penanaman ideologi kekerasan telah menjadi fobia bagi masyarakat. Berbagai permasalahan terkait hal ini menjadi topik diskusi yang menarik di lembaga akademisi dan  lembaga penelitian  tentang fenomena a radikalisme dalam agama Islam. Tulisan ini, sebagian besar dari berbagai literatur pustaka didukung oleh temuan dari hasil  wawancara beberapa perempuan sebagai sumber primer melaluli media WhatsApp. Menganalisis cara pandang para perempuan menanggapi masalah ini, dapat  dilihat pada bagian pembahasan akhir di artikel ini.