cover
Contact Name
Otto Fajarianto
Contact Email
ofajarianto@gmail.com
Phone
+6281296890687
Journal Mail Official
jurnal.peradaban@paramadina.ac.id
Editorial Address
Universitas Paramadina Jl. Raya Mabes Hankam No.Kav 9, Setu, Kec. Cipayung, Kota Jakarta Timur, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 13880
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Peradaban (Filsafat, Etika, dan Agama)
Published by Universitas Paramadina
ISSN : 27753875     EISSN : 30467136     DOI : https://doi.org/10.51353/cxxqkb93
Jurnal Peradaban (Filsafat, Etika, dan Agama), is a peer-reviewed journal, and specializes in philosophy, religion, and ethics studies. The aim is to provide readers with a deep understanding of philosophical, religious, and ethical problems in many aspects. The journal invites scholars and experts working in all disciplines in the humanities and social sciences. Articles should be original, inspiring, research-based, unpublished and not under review for possible publication in other journals. All submitted papers are subject to review of the editors, editorial board, and blind reviewers. Submissions that violate our guidelines on formatting or length will be rejected without review. Jurnal Peradaban (Filsafat, Etika, dan Agama) publishes two issues per year (June and December), published by Lembaga Penelitian dan Pengabdian Universitas Paramadina.
Articles 41 Documents
Populisme Islam dan Politik Azumardi Azra
Jurnal Peradaban Vol. 1 No. 1 (2021): Jurnal Peradaban
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Paramadina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51353/jpb.v1i1.492

Abstract

Dalam beberapa tahun terakhir istilah ‘populisme Islam’ mulai menjadi wacana akademik di kalangan para ahli. Istilah itu digunakan untuk melihat fenomena politik Islam sejak terjadinya sejumlah aksi massa kalangan Muslim Indonesia pada akhir 2016, awal 2017, dan akhir 2018 yang semula terkait dengan Pilkada DKI Jakarta kemudianbelakangan dihubungkan dengan Pilpres 2019. Penulis makalah ini sering mendapat pertanyaan tentang ‘populismeIslam’ Indonesia baik dari audiens dalam negeri maupun luarnegeri. Pertanyaan itu sering mengandung nada bahwa ‘populisme Islam’ tidak hanya akan menguasai politik, tapi juga arsitektur Islam Indonesia.
Pengaruh Ibn Arabi dalam Kosmologi Hamzah Faansuri Fuad Mahbub Siraj
Jurnal Peradaban Vol. 1 No. 1 (2021): Jurnal Peradaban
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Paramadina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51353/jpb.v1i1.493

Abstract

Salah satu perkara penting yang banyak disebut dalam al-Qur’an adalah persoalan alam semesta. Ayat al-Qur’an mengajak manusia agar memperhatikan dan memikirkan tentang penciptaan alam semesta, karena di dalamnya terdapat tanda-tanda keberadaan dan kekuasaan Allah. prinsip kosmologi Islam ialah menetapkan keesaan Tuhan dan martabatwujud, yang secara metafisik menegaskan bahwa realitas pada dasarnya hanya satu, namun secara kosmologis, alam yang dapat dirasa dan difikirkan ini merupakan salah satu dari beragam wujud yang ada. Pemikiran Ibn Arabi tentang penciptaan alam menempatkannya dalam mainstream pemikiran Islam. Dalam pemahaman Ibn Arabi makna alam adalah segala sesuatu selain Allah (ma siwa Allah) atau segala sesuatu selain al-Haqq. Ia menggunakan istilah tajalli dalam penciptaan. Tajalli bermaknapenampakan wujud Tuhan pada berbagai bentuk, oleh karena itu Tuhan selalu hadir dalam segala sesuatu. Ajaran tentang penciptaan alam Hamzah Fansuri dapat dihubungkan dengan ajaran tentang penciptaan alam IbnArabi. Kedua ajaran ini sama-sama berpendapat bahwa alam diciptakan dari yang ada menjadi ada, bukan diciptakan dari yang tidak ada menjadi ada (creatio ex nihilo). Hamzah Fansuri menggambarkan tentang proses penciptaan alam semesta yang terus berlaku di mana alam muncul sebagai manifestasi dari zat-zat Allah yang spiritual pada awalnya kemudiandilanjutkan ke fisik. Hamzah Fansuri menyebut derajat itu dengan ta'ayyun. Pada dasarnya, Hamzah Fansuri juga membedakan antara Tuhan dan alam, meskipun Tuhan dan alam adalah sama, tetapi ia memiliki sifat yang berbeda, di mana Tuhan sendiri memiliki esensi yang berbeda dengan alam
News Site Commenting Policy and Its Ethical Implications Ika Karlina
Jurnal Peradaban Vol. 1 No. 1 (2021): Jurnal Peradaban
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Paramadina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51353/jpb.v1i1.499

Abstract

Abstract: Internet and social media platforms have provided a voice to the readers where they can express their opinions on news articles. However, such freedom to express one’s opinion has often lead to uninhibited flow of words that can prove harmful and hurtful to a segment of people, especially when discussions revolve around race, religion, politics, and minorities. News sites have responded differently in dealing with the onslaught of negativity. Some news sites have completely closed the commenting features while a few others have moderated comment sections. Such developments have generated an ethical dilemma in the journalistic realm—trying to balance the need of free expression, and avoidance of harm. Through this study, I synthesized research that deals with commenting in the online context. I found that current policies of news outlets concerning commenting forums have not provided a conducive environment for deliberated discussion. I therefore argue that news sites should open the comment feature along while applying a policy in which commentators’ identities are non-anonymous. Furthermore, I suggest the design and implementation of a reputation strategy whereby readers can comment and engage in a dialogue on issues while exercise social rewards and punishment.
Akuisisi dan Polemik Filsafat dalam Islam Sunaryo Sunaryo
Jurnal Peradaban Vol. 1 No. 1 (2021): Jurnal Peradaban
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Paramadina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51353/jpb.v1i1.500

Abstract

Melalui artikel ini penulis menjelaskan bagaimana filsafat Yunani masuk ke dalam dunia muslim, bagaimana ia diserap, dikembangkan dan didiskusikan. Dari cara sarjana muslim merespon peradaban luar atau asing saat itu kita bisa melihat sebuah watak agama yang sangat terbuka dan sekaligus juga kritis. Meski dalam topik-topik tertentu mereka tidak satu pendapat, tetapi secara umum tradisi yang dikembangkan adalah sebuah sikap kritis yang cukup ilmiah. Suasana ini membentuk lingkungan keilmuan yang positif bagi perkembangan ilmu pengetahuan secara umum dalam dunia muslim. Polemik antar-para teolog dan filsuf soal filsafat pada masa itu bisa kita pahami sebagai ekspresi keragaman pendapat yang membuat Islam semakin kaya dalam pemikiran. Keragaman ini menjadi penting ketika kita bicara tentang sikap Islam terhadap filsafat dan filsuf. Ketidaksetujuan terhadap filsafat hanya salah satu bagian pandangan cendekiawan muslim, sebagaimana dilakukan oleh al-Ghazālī, karena cendikiawan muslim yang lain justru menganggap itu sebagai sesuatu yang mandūb (dianjurkan) sebagaimana dinyatakan oleh Ibn Rusyd.
‘Abd Al-Ra’uf Al-Fansuri’s Answer to Early Disputation of Wahdat Al-Wujud of 17TH Century Acheh Ridwan Arif
Jurnal Peradaban Vol. 1 No. 1 (2021): Jurnal Peradaban
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Paramadina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51353/jpb.v1i1.501

Abstract

Abstrak: Waẖdat al-wujūd adalah salah satu doktrin kontroversi dalam tasawuf. Ia tidak saja menjadi perdebatan di Timur Tengah, tapi juga pernah memicu konflik dan tragedi di Nusantara, khususnya Aceh pada abad ke-17. Para penganut paham ini pernah dihukum kafir dan dihukum mati. ‘Abd al-Ra’uf yang datang kemudian merasa bertanggung jawab menciptakan kembali kedamaian di Aceh, berupaya melakukan rekonsiliasi dengan menafsirkan ulang doktrin waẖdat al-wujūd sesuai akidah Islam (syarī’ah). Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yaitu penelitian kepustakaan dengan meneliti sumber-sumber primer dan sekunder yang berkaitan dengan tema kajian. Hasil studi ini menemukan ‘Abd al-Ra’uf berupaya membuktikan bahwa doktrin waẖdat al-wujūd tidak bertentangan dengan akidah Islam sebagaimana banyak disalah-pahami. Waẖdat al-wujūd bukan bermaksud Allah SWT identik dengan alam, tetapi hanya Allah yang memiliki wujud pada taraf substansi (hakikat) sedangkan alam, walaupun berwujud dalam dunia kasat mata, hakikatnya tiada memiliki wujud. Wujud alam disebut wujud majazī. Walaupun mempertahankan waẖdat al-wujūd, ‘Abd al-Ra’uf mengkritik pemahaman menyimpang tentang waẖdat al-wujūd yaitu keyakinan yang mengatakan semua yang ada (alam semesta) adalah dzāt Allah. Upaya ‘Abd al-Ra’uf dalam melakukan reinterpretasi doktrin ini sangat penting dan bernilai dalam upaya mengembalikan kedamaian dalam masyarakat Aceh.
Menelaah Fenomena Culture Shock pada Perantau Leonard Brahmandika
Jurnal Peradaban Vol. 3 No. 2 (2023): Jurnal Peradaban
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Paramadina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51353/jpb.v3i2.570

Abstract

The focus of this research is to look at the phenomenon of culture shock by migrants. Culture shock is different from cultural lag. In this paper, migrants are students and workers who migrate from their home area to another area. They can migrate temporarily or for a long time. The methodology used is online theme-focus. Through this methodology, the author wants to see various kinds of news in online mass media about students and migrant workers. Their life stories can be a reference for other people who want to migrate. In that life story, there are many life and cultural values ​​that can be applied by other people. This study aims to find the problems that migrants actually experience when they are in other areas. The findings in this research study are the similarities and differences in culture shock experienced by students and migrant workers. Apart from that, there are solutions for these migrants to be able to communicate between cultures when they are in a new area or environment.
Nilai Etika dalam Seni Islam: Studi Pemikiran Seyyed Hossein Nasr Farkhan Fuady
Jurnal Peradaban Vol. 2 No. 2 (2022): Jurnal Peradaban
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Paramadina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51353/jpb.v2i2.628

Abstract

The development of thought and creativity in Islamic art is increasingly showing progress. Artworks provide teachings in everyday life that are useful for creating good Muslims. Various Muslim scholars also studied Islamic art and even Muslims produced Islamic art. One of them is Seyyed Hossein Nasr who approaches Islamic art with spirituality. This research is a library research or literature with qualitative research methods. Research library data sources from books, manuscripts, scientific articles and other sources of literature that can be trusted. One of the primary data sources is Seyyed Hossein Nasr's book entitled Islamic Art and Spirituality which has been translated into Indonesian by Sutejo with the title Spirituality and Islamic Art. The results show that Islamic art contains ethical values ​​that are useful for everyday life. As in the art of calligraphy which is attached to the lives of Muslims, such as in household furniture. In addition, Islamic teachings can be seen in Islamic poems. Other arts also such as music, dance, Islamic architecture and others. So it can be concluded that Islamic art contains ethical values ​​which for Nasr can be contemplated through spiritual activities.
Beyond Religious Interpretations Islamic Fundamentalism and the Politics of Sexuality and Gender Farid Muttaqin
Jurnal Peradaban Vol. 2 No. 1 (2022): Jurnal Peradaban
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Paramadina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51353/jpb.v2i1.655

Abstract

Abstract This paper discusses the rising phenomenon of deploying sexuality and gender by Islamic fundamentalist groups in contemporary political situations. Rather than contextualizing the case as a form of patriarchal and heteronormative approaches in interpreting Islamic teachings, this article addresses a more systematic Islamic political agenda that roots in the history of sexuality in the Islamic context. This paper elaborates and traces the influential impacts of the construction and production of the discourse of marriage, homosexuality, controlling women’s body and sexuality, and the authority of male clerics (ulama) in Islamic knowledge and law production to the revival of contemporary politics of gender and sexuality among Islamic fundamentalist groups both in Indonesia and beyond. Examining current social and political dynamics, both in Indonesia and at global level, this article offers a new analytical frameworkbeyond academic interpretation (tafsir) in understanding the politics of gender and sexuality in the context of emerging Islamic fundamentalism.
Menimbang Komunikasi Spiritual: Sebuah Tinjauan Konseptual Putut Widjanarko
Jurnal Peradaban Vol. 2 No. 1 (2022): Jurnal Peradaban
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Paramadina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51353/jpb.v2i1.657

Abstract

The discourse on the relationship between religion and spirituality with communication studies has attracted the interest of many researchers, including Indonesian researchers. However, the literature produced by Indonesian researchers on the discourse, including those that investigate the relationship of communication and Islam, appear to be detached from the wider context. Therefore, the purpose of this article is to provide a more theoretical background to this discourse. The conceptual review method is applied to enable the researcher to explore the literature and develop conceptual maps to produce theoretical syntheses, develop new theories, or encourage attention to areas of study that have been underdeveloped so far. This article emphasizes the development of the Spiritual Tradition in communication studies and describes the dialogical and dialectical junctures with other communication theory traditions in Craig's (1997, 2007) metamodel. With such a theoretical background, the discourse on the study of communication and Islam in Indonesia can be directed to more contextual studies that is related to a wider discourse.
Agama Terapist Masyarakat Modern Menuju Damai Untuk Semesta Saurip Kadi
Jurnal Peradaban Vol. 2 No. 1 (2022): Jurnal Peradaban
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Paramadina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51353/jpb.v2i1.658

Abstract

Modernsasi mencapai titik kulminasi dengan segala residu soalan yang ditinggalkan, yang mendesak untuk disolusikan. Sementara itu negara-negara di koridor utara sudah mapan sehingga sulit untuk diubah, maka solusi kedepan akan bertumpu kepada negara-negara koridor selatan untuk memaknai tata dunia baru. Yang utama adalah soal refleksi atas azas dan tuntunan kehidupan yang kini banyak digugat, mengapa sedemikian parah residu soalan bumi dan seisinya, dimanakah kesalahannya dan bagaimana memperbaikinya. Arus global memaksa jaman paskamodern untuk kembali ke alam (back to nature), kembali ke kesederhanaan (back to simplicity) dan kembali kepada azas kehidupan masyarakat bijak (wise society) yang mengacu kepada kearifan lokal. Disini negara-negara “south corridor”, blessing in disguise, relatif belum tersentuh modernisasi, masih relatif utuh, termasuk soal spiritualitasnya yang menyatu dengan alam semesta. Kini, pandemi mendorong disrupsi peradaban, the turning point, titik balik peradaban sedang berproses, dan pada saat yang sama globalisasi didorong oleh revolusi sains-teknologi bersinergi dengan pandemi sehingga memaksa manusia di seluruh dunia untuk menata kembali semua sisi kehidupan. Saatnya Nuswantara berpeluang untuk memimpin, sebagaiman masa lalu Nuswantara menjadi pemimpin Asia Afrika 1955. Maka negara-negara di sepanjang Koridor Selatan perlu berbenah diri dengan tatanan baru yang adil dan mensejahterakan alam semesta beserta sesisinya. Tugas “teologi naturalisme” untuk menjadi terapist bagi penyakit masyarakat modern, peran yang sangat dinantikan menuju damai untuk semesta.