Belis Bala merupakan salah satu unsur penting dalam adat perkawinan adat masyarakat Lamaholot. Dalam tradisi ini, bala bukan sekadar pemberian materi dari pihak laki-laki kepada pihak perempuan, melainkan simbol penghargaan, pengakuan, dan ikatan antara dua keluarga besar. Nilai-nilai yang terkandung dalam belis mencakup kehormatan, tanggung jawab, solidaritas sosial, serta kesinambungan adat dan budaya. Namun, seiring dengan perkembangan zaman, modernisasi, makna dan praktik pemberian belis mengalami pergeseran. Apa yang dahulu bersifat simbolik dan sakral kini mulai berubah menjadi transaksi yang cenderung materialistis. Hal ini menimbulkan berbagai dinamika sosial, seperti beban ekonomi bagi pihak laki-laki, konflik antar keluarga, hingga perubahan struktur relasi sosial dalam masyarakat Lamaholot. Penelitian ini menggunakan metode studi kepustakaan (library research). Hasil peneltian menunjukkan bahwa perkembangan zaman dan pengaruh globalisasi serta modernisasi membawa tantangan berat terhadap eksistensi nilai tradisi belis, terutama masyarakat urban yang banyak mengalami perubahan nilai-nilai spiritual dan karakter diri. Belis bala tidak lagi dipandang sebagai bentuk penghormatan dan keharmonisan keluarga laki-laki dan perempuan melainkan sebagai kewajiban material yang harus ditunaikan.
Copyrights © 2025