Bida: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 1 No. 1 (2024): Bida: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat

PENGUATAN SOLIDARITAS BERBASIS KEARIFAN LOKAL: KERUKUNAN ANTARUMAT BERAGAMA DALAM TRADISI MA’GERE’ TEDONG DI LEMBANG GANDANGBATU

Syukur Matasak (Institut Agama Kristen Negeri Toraja)
Darius Darius (Institut Agama Kristen Negeri Toraja)
Jems Alam (Institut Agama Kristen Negeri Toraja)
Ones Kristiani Rapa (Institut Agama Kristen Negeri Toraja)
Yohanes Krismantyo Susanta (Institut Agama Kristen Negeri Toraja)
Ferdy Alextian Sapan (Institut Agama Kristen Negeri Toraja)
Jimmy Sucipto (Institut Agama Kristen Negeri Toraja)
Prani Yustiana (Institut Agama Kristen Negeri Toraja)
Kristen Rahel Palimbong (Institut Agama Kristen Negeri Toraja)
Jeni Bunga (Institut Agama Kristen Negeri Toraja)
Berniwati (Institut Agama Kristen Negeri Toraja)



Article Info

Publish Date
25 Apr 2024

Abstract

Masyarakat plural adalah masyarakat yang beragam dalam hal agama, budaya, suku, tras, bahasa, dan lain. Konteks masyarakat berbeda seperti ini selain indah, namun juga rentan dengan hadirnya konflik. Salah satu masyarakat plural di Tana Toraja adalah masyarakat Gandangbatu. Meskipun  masyarakat ini sarat dengan berbagai agama, suku, dan bahasa, namun masyarakat ini justru hidup harmonis satu dengan yang lain. Keberadaan masyarakat yang harmonis ini, maka pentingnya untuk terus memberikan penguatan untuk mempertahakan kehidupan yang harmonis melalui solidaritas kearifan lokal. Karena itu, metode yang digunakan dalam Pengabdian kepada Masyarakat ini adalah Focus Group Discussion. Metode ini dilakukan dilakukan dengan melibatkan tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, tokoh perempuan, dan  Institut Agama Kristen Negeri Toraja secara kolaboratif dan sinergitas memberikan peguatan solidaritas sosial kearifan lokal untuk mempertahakan kerukunan antarumat beragama dalam tradisi ma’gere’ tedong di Lembang Gandangbatu. Hasil dari Pengabdian kepada Masyarakat  ini menunjukkan bahwa Tradisi ma’gere’ tedong bukan hanya sebagai praktik budaya, tetapi memiliki makna untuk mempersatukan masyarakat plural. Selain itu, tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, tokoh perempuan, dan Perguruan tinggi Institut Agama Kristen Negeri Toraja memiliki peran besar untuk memberikan penguatan-penguatan dan menjaga kearifanl lokal di tengah masyarakat Gandang batu. A plural society is a society that is diverse in terms of religion, culture, ethnicity, race, language, and so on. The context of a different society like this is not only beautiful but also vulnerable to the presence of conflict. One of the pluralistic communities in Tana Toraja is the Gandangbatu community. Even though this society is characterized by various religions, tribes and languages, this society actually lives in harmony with one another. For the existence of a harmonious society, it is important to continue to provide reinforcement to maintain a harmonious life through local wisdom and solidarity. Therefore, the method used in this Community Service is Focus Group Discussion. Focus Group Discussions carried out by involving religious leaders, traditional leaders, community leaders, youth leaders, women's leaders, and universities in a collaborative and synergistic manner to strengthen social solidarity with local wisdom to maintain harmony between religious communities in tradition ma’gere’ tedong in Lembang Gandangbatu. The results of this Community Service show that Tradition ma’gere’ tedong not only as a cultural practice but has the meaning of uniting a pluralistic society. Apart from that, religious leaders, traditional leaders, community leaders, youth leaders, women's leaders, and Institut Agama Kristen Negeri Toraja have a big role in providing reinforcement and maintaining local wisdom in the Gandangbatu community.

Copyrights © 2024






Journal Info

Abbrev

ojsbida

Publisher

Subject

Description

Bida, sinonimnya: keturunan (bangsawan Toraja), zuriah. Dari perspektif filsafat-antropologi Toraja dimaknai sebagai manusia yang ter/di-pilih karena dianggap sebagai keturunan yang memiliki kecakapan: kebijaksanaan (kinaa), kekayaan (sugi’) dan keberanian (barani). Dalam budaya tradisional ...