Pola pemberian makan merupakan salah satu faktor penyebab tidak langsung status gizi pada balita. Balita dengan riwayat pola pemberian makan yang tidak tepat lebih besar kemungkinan terkena stunting. Padahal, stunting memiliki dampak negatif seperti berkurangnya kemampuan kognitif dan prestasi akademis, daya tahan tubuh menurun sehingga mudah terserang penyakit, besarnya peluang terkena penyakit tidak menular, dan gangguan kesehatan lainnya di usia lanjut. Berbagai dampak stunting tersebut melatarbelakangi untuk dilakukan penelitian ini. Adapun tujuan penelitian adalah untuk mengetahui gambaran pola pemberian makan oleh ibu pada anak balita stunting usia 12–59 bulan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan metode cross sectional. Sampel penelitian sebesar 36 responden. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis secara statistik deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan karakteristik subjek penelitian sebagian besar anak balita berusia antara 36–47 bulan, berjenis kelamin perempuan, dan lahir urutan kedua dalam keluarga. Karakteristik responden penelitian sebagian besar adalah ibu pada kelompok usia produktif dan tidak berisiko, berpendidikan dasar, tidak bekerja, dan memiliki anak berjumlah dua orang. Selanjutnya, mayoritas status gizi anak balita masuk dalam kategori pendek (stunting). Sedangkan berdasarkan pola pemberian makan maka dapat digambarkan bahwa sepertiga dari total jawaban responden dalam memberikan makan pada anak balita stunting adalah tidak tepat. Implikasi keperawatan dari penelitian ini mencakup aspek promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif dalam mencegah dan menangani kejadian stunting pada anak balita. Selain itu, perlu adanya peningkatan kompetensi perawat dalam mendeteksi, mencegah, dan mengatasi masalah stunting sehingga dapat mendukung program pemerintah dalam percepatan penurunan angka stunting di Indonesia.
Copyrights © 2025