Getah pinus (Pinus merkusii) merupakan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan berperan penting dalam menciptakan pengelolaan hutan berkelanjutan. Kelompok Tani Hutan (KTH) Sipatuo di Desa Pa'tengko, Tana Toraja, terlibat aktif dalam penyadapan getah pinus melalui skema Perhutanan Sosial, yang tidak hanya berdampak pada ekonomi tetapi juga pada kelestarian hutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis teknik pengelolaan penyadapan getah pinus serta dampak sosial-ekonomi yang ditimbulkan bagi anggota KTH Sipatuo. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode pengumpulan data melalui observasi lapangan, wawancara mendalam dengan anggota KTH, dan studi dokumentasi. Data dianalisis secara tematik untuk mengelompokkan informasi terkait teknik sadap, rantai nilai getah pinus, dan dampaknya. KTH Sipatuo menggunakan teknik koakan (quare) dengan pembaruan luka setiap dua minggu. Getah dikumpulkan setiap 15 hari dan dijual ke mitra (CV. Pindo Indonesia) dengan harga Rp8.000 per kg. Rata-rata produksi per karung antara 70–97 kg. Dampak sosial-ekonomi yang signifikan meliputi peningkatan pendapatan rumah tangga, penciptaan lapangan kerja, penguatan kelembagaan kelompok tani, dan peningkatan kesadaran konservasi. Pengelolaan getah pinus oleh KTH Sipatuo telah memberikan kontribusi nyata terhadap perekonomian lokal sekaligus mendorong pelestarian hutan. Namun, diperlukan pengembangan diversifikasi tanaman dan peningkatan kapasitas pengolahan untuk meningkatkan nilai tambah dan keberlanjutan jangka panjang.
Copyrights © 2025