Tingkat putus sekolah yang tinggi di Indonesia menyoroti kebutuhan akan penawaran pendidikan alternatif yang inklusif dan fleksibel, seperti model Sekolah Terbuka, yang dirancang untuk melayani siswa dengan keterbatasan sosial, ekonomi, dan geografis. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkap peran yang dimainkan oleh guru dalam implementasi Sekolah Terbuka di SMP Plus Salsabila Samarinda, serta tantangan pedagogis dan struktural yang muncul. Menggunakan observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan analisis dokumen, studi ini menerapkan teknik kualitatif fenomenologis dengan lima guru. Model Miles, Huberman, dan SaldaƱa, yang terdiri dari tahap reduksi, presentasi, dan verifikasi, digunakan untuk menganalisis data dan menghasilkan struktur tematik yang komprehensif. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa pendidik memiliki berbagai peran, termasuk merancang kurikulum yang fleksibel, bertindak sebagai mentor dalam hal etika dan pengendalian diri, memfasilitasi akses ke bahan pembelajaran non-digital, serta menginspirasi siswa untuk belajar secara mandiri. Hambatan utama meliputi rendahnya disiplin siswa dalam pembelajaran mandiri, kurangnya fasilitas teknologi, dan waktu belajar yang terbatas akibat jadwal yang padat di sekolah asrama Islam.
Copyrights © 2024