Generasi Z, meskipun digolongkan sebagai digital native dengan frekuensi penggunaan internet yang tinggi, menghadapi Paradoks Kompetensi yang signifikan, di mana kecakapan fungsional tidak berkorelasi dengan pemahaman kritis yang memadai. Studi ini bertujuan menganalisis kecakapan Generasi Z (usia 18–22 tahun) dalam memverifikasi hoaks berbasis short-form video di platform TikTok, yang arsitekturnya mendorong viralitas emosional dan membatasi waktu kognitif untuk verifikasi. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif melalui wawancara mendalam dengan narasumber Generasi Z , penelitian ini menemukan bahwa strategi verifikasi mandiri Generasi Z cenderung ad-hoc, bersifat Pembacaan Vertikal (terjebak dalam konteks platform), dan rentan terhadap dorongan emosional. Kesenjangan kritis ini diperburuk oleh ancaman teknologi Deepfake dan konten AI yang kini dinilai "sangat sangat real" dan melampaui kemampuan deteksi visual konvensional Gen Z. Sebagai respons terhadap kegagalan literasi kritis individu dalam menghadapi infodemic berbasis mesin, penelitian ini menyimpulkan perlunya intervensi sistemik. Platform wajib menerapkan Pelabelan AI Wajib pada konten yang dimanipulasi , sementara kurikulum edukasi harus direvisi untuk mengadopsi metodologi sistematis Pembacaan Lateral (SIFT), yang menekankan prinsip STOP untuk melawan dorongan berbagi yang dipicu emosi.
Copyrights © 2025