Hasil analisis menunjukkan adanya dialektika antara historiografi Pajang dan legenda lokal. Narasi lokal sengaja menempatkan kedatangan Pangeran Benowo pada tahun 1555 M (anachronism). Strategi ini memposisikannya sebagai pelopor peradaban dengan misi suci, bukan pelarian politik, demi menciptakan "sejarah yang berguna" bagi Pemalang. Legenda ini diperkuat dengan etimologi rakyat, seperti asal-usul nama Panggarit yang mengikat memori leluhur dengan identitas geografis. Kisah ini berfungsi sebagai Memori Kultural yang dihidupkan melalui ritual tahunan (Haul) dan dimodernisasi melalui Benowo Park. Secara struktural, narasi ini mengandung nilai kearifan lokal yang kaya, mencakup tanggung jawab, kerja sama spiritual, kerendahan hati, dan religiusitas yang esensial bagi pendidikan karakter.
Copyrights © 2025