Tujuan dibuatnya artikel ini adalah untuk memberikan motivasi dan peringatan mengenai arah pendidikan Indonesia yang seiring berjalannya waktu semakin bergeser dari fungsi asalnya (sebagai pencerahan) menjadi alat pencitraan (dari segi sosial, politik, dan ekonomi). Pendidikan kini sering dimaknai sebagai ajang pamer prestasi dan keberhasilan institusi, alih-alih ruang reflektif untuk mengembangkan kesadaran kritis siswa. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan mengacu pada teori pedagogi kritis Paulo Freire serta wacana neoliberalisme dalam pendidikan, artikel ini menyoroti bagaimana citra dan persaingan telah menggantikan nilai-nilai humanisasi dan emansipasi. Temuan penelitian menunjukkan bahwa fokus pada pembangunan citra telah mereduksi pendidikan menjadi sekadar proyek administratif dan visual, mengesampingkan esensi humanistiknya. Praktik ini berdampak pada hilangnya ruang dialog, refleksi, dan pembebasan berpikir dalam proses pembelajaran. Oleh karena itu, reorientasi nilai dan paradigma diperlukan agar pendidikan dapat kembali berfungsi sebagai proses pencerahan yang membebaskan, alih-alih sebagai sarana propaganda sosial dan kepentingan institusional semata.
Copyrights © 2025