Radikalisme di era digital kini berkembang melalui ujaran kebencian di media sosial yang sering kali tidak disadari oleh remaja. Kelompok radikal memanfaatkan kondisi psikologis siswa untuk menyusupkan ideologis mereka melalui bahasa yang memancing emosi. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan bagaimana pemahaman kesantunan berbahasa dapat menjadi filter bagi siswa dalam menangkal konten negatif tersebut. Kegiatan penelitian dilakukan dengan metode deskriptif kualitatif melalui observasi dan diskusi bersama siswa SMK Farmasi Ikasari Pekanbaru pada 28 November 2025. Hasilnya menununjukkan bahwa setelah memahami prinsip kesantunan, siswa menjadi lebih kritis. Mereka menyadari bahwa menggunakan bahasa yang santun adalah cara paling ampuh untuk meredam provokasi digital. Kesimpulannya, kemampuan bahasa yang baik bukan sekedar tentang tata karma, melainkan strategi pertahanan diri agar siswa tidak mudah terpapar ideologi yang merusak.
Copyrights © 2025