Petah Manis (Pelajar Tahfiz, Maju, Mandiri, dan Agamis) berhasil dan efektif dalam mengembangkan moralitas siswa sekolah dasar di SDN Tampang Awang. Metode ini secara efektif menyinergikan dua kekuatan utama: budaya religius dan kearifan lokal Banjar. Pendekatan ini terbukti lebih unggul dibandingkan model pendidikan karakter generik karena berakar langsung pada konteks sosial-budaya para siswa. Penerapan metode ini dilakukan dalam dua siklus. Siklus pertama berfokus pada pembiasaan menghafal surah-surah pendek Al-Qur'an, yang berhasil menanamkan nilai disiplin dan tanggung jawab individu pada siswa. Siklus kedua, yang merupakan penyempurnaan dari siklus pertama, mengintegrasikan nilai-nilai kearifan lokal Banjar seperti semangat gotong royong dan Batuah (bermanfaat bagi sesama). Hasilnya, terjadi peningkatan signifikan dalam keterampilan sosial, empati, dan akhlak sosial siswa, seperti proaktif membantu teman dan menerapkan budaya 5S (Senyum, Sapa, Salam, Sopan, Santun). Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa Metode Petah Manis mampu menjawab tantangan dekadensi moral di era digital dengan membentuk fondasi karakter yang kokoh, sejalan dengan amanat Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional untuk menciptakan peserta didik yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia.
Copyrights © 2025