Artikel ini mengkonstruksi paradigma kepemimpinan naratif-memori sebagai alternatif terhadap model kepemimpinan gereja yang dominan bersifat visioner-futuristik dan manajerial-korporat. Melalui pendekatan kualitatif-konstruktif dengan metode korelasi kritis, penelitian ini mengintegrasikan teologi memori (Metz, Volf, Ricoeur), teori kepemimpinan naratif (Gardner, Hauerwas), dan liturgi formatif (Smith, Schmemann) untuk mengembangkan kerangka kepemimpinan yang berakar pada praktik anamnesis. Temuan menunjukkan bahwa kepemimpinan naratif-memori menawarkan lima dimensi transformatif: pemimpin sebagai kurator memori komunal, liturgi sebagai teknologi pembentukan identitas, narasi sebagai medium integrasi pengalaman fragmentaris, memori sebagai sumber rekonsiliasi pasca-trauma, dan anamnesis sebagai kritik profetik. Dalam konteks Indonesia yang ditandai pluralitas dan berbagai luka sejarah, model ini menyediakan kerangka teologis dan praktis untuk pembangunan jemaat yang mengintegrasikan pengakuan atas penderitaan masa lalu dengan harapan eskatologis.
Copyrights © 2025