Produk perishable memiliki masa simpan terbatas, sehingga diperlukan metode tertentu untuk mempertahankan kualitasnya. Tantangan utamanya adalah menentukan jumlah pasokan yang dibutuhkan sebelum produk tersebut kedaluwarsa. Penelitian ini bertujuan memaksimalkan keuntungan dengan mempertimbangkan penurunan kualitas produk. Model yang digunakan melibatkan dua fase persediaan: fase pertama untuk menyimpan cabai segar, dan fase kedua untuk menyimpan cabai kering. Sumber pasokan hanya berasal dari satu jenis, yaitu cabai segar, yang digunakan untuk memenuhi dua jenis permintaan berbeda. Proses yang disebut renewal process dilakukan melalui pengeringan, yang dapat memperpanjang masa simpan produk. Sisa produk dari fase pertama dapat diproses lebih lanjut melalui renewal. Selain itu, penelitian ini juga mempertimbangkan kendala emisi karbon selama penyimpanan cabai segar. Terdapat dua skenario yang merepresentasikan kondisi sistem nyata: skenario pertama dengan permintaan tetap dan skenario kedua dengan permintaan fluktuatif. Hasil penelitian menunjukkan perbedaan signifikan antara kedua skenario dalam hal efisiensi dan adaptabilitas. Skenario pertama lebih hemat biaya karena total biayanya lebih rendah, terutama pada biaya inventori (Rp 185.593 dan Rp 204.784), dan jumlah inventori lebih kecil, sehingga cocok untuk permintaan yang stabil. Sebaliknya, skenario kedua lebih adaptif terhadap permintaan yang fluktuatif meskipun total biayanya lebih tinggi.
Copyrights © 2025