Pasca masa kodifikasi qirā’āt, perhatian di bidang ini semakin meluas di berbagai wilayah dunia islam. Muncul sejumlah ulama besar yang turut berperan dalam menjaga autentisitas bacaan al-Qur’an, salah satunya ialah Imām Aḥmad bin Ḥanbal. Selain dikenal sebagai pendiri madhhab Ḥanbali dan ahli hadith terkemuka, beliau juga turut memberikan perhatian terhadap berbagai varian bacaan qirā’āt yang berkembang pada masanya. Dalam penelitian ini, penulis membahas qirā’ah Imām Aḥmad bin Ḥanbal dengan fokus pada dua aspek utama, yaitu karakteristik dan autentisitas qirā’ah. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan jenis studi kepustakaan (library research), melalui analisis terhadap berbagai literatur yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Imām Aḥmad bin Ḥanbal memiliki tiga puluh sembilan bentuk ikhtiyār qirā’ah, tujuh belas di antaranya sesuai dengan riwayat mutawātir, sedangkan dua puluh dua termasuk kategori shādhah. qirā’ah Imām Aḥmad dinilai shādhah: yaitu bacaan yang tidak mencapai derajat mutawātir. sebagian besar bacaan yang beliau pilih tidak memenuhi syarat mutawatir sebagaimana yang dipegang oleh para imam qiraat yang sepuluh. Oleh karena itu, qirā’ah imam ahmad tidak dapat digunakan sebagai bacaan resmi dalam salat, namun tetap memiliki nilai penting dalam kajian ilmiah karena menunjukkan keluasan pengetahuan beliau tentang ragam bacaan al-Qura’an dan kontribusi beliau terhadap perkembangan ilmu qirā’at pada masa awal islam.
Copyrights © 2025