Ilmu pengetahuan memiliki peran sentral dalam perkembangan peradaban manusia, namun pengembangannya tidak dapat dilepaskan dari persoalan-persoalan filosofis mengenai hakikat, sumber, dan cara memperolehnya. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis hakikat ilmu pengetahuan, landasan epistemologisnya, serta proses perolehan dan validasi pengetahuan dalam perspektif filsafat ilmu. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui kajian pustaka terhadap pemikiran filsafat klasik hingga kontemporer, meliputi empirisme, rasionalisme, kritisisme Kantian, falsifikasionisme Karl Popper, teori paradigma Thomas Kuhn, dan konstruktivisme sosial. Hasil kajian menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan bukanlah entitas yang statis dan tunggal, melainkan konstruk dinamis yang terbentuk melalui interaksi antara pengalaman empiris, akal budi, serta konteks sosial-historis komunitas ilmiah. Sumber pengetahuan tidak hanya bersandar pada pengalaman indrawi dan rasio, tetapi juga mencakup intuisi, wahyu, otoritas, dan tradisi, yang masing-masing memiliki landasan validitas serta keterbatasan epistemologis. Selain itu, cara memperoleh ilmu pengetahuan berkembang secara pluralistik melalui metode deduktif, induktif, kritis, hermeneutis, dan abduktif, sesuai dengan karakter dan tujuan kajian keilmuan. Kajian ini menegaskan pentingnya kesadaran filosofis dalam praktik penelitian agar produksi ilmu pengetahuan berlangsung secara reflektif, bertanggung jawab, dan relevan dengan tantangan epistemologis kontemporer.
Copyrights © 2025